GREAT WAR - CATATAN LENA
RASA, DIAM DAN CINTA
Matahari pagi perlahan mengintip di balik bukit, menyinari sawah-sawah hijau yang terhampar luas, membawa hangatnya pada desa kecil yang damai itu. Di sanalah Rama memulai harinya, mengabdikan diri sebagai guru di Sekolah Dasar setempat. Bagi anak-anak desa, ia bukan sekadar pengajar, tetapi seorang teman yang mereka kasihi, selalu siap mendengar cerita dan kegelisahan mereka. Kehidupan desa yang sederhana tapi penuh tawa membuat setiap harinya terasa istimewa. Senyum dan canda polos dari anak-anak menjadi kekuatan tersendiri bagi Rama, yang menemukan makna dan kebahagiaan dalam setiap momen bersama mereka.
Dani, si murid pintar yang penuh rasa penasaran, selalu mengangkat tangan paling cepat ketika Rama mengajukan pertanyaan. Pipin dengan tawanya yang riang, Bayu yang pendiam namun penuh perhatian, serta Pendi yang pemalu selalu hadir membawa warna-warna kecil yang meneduhkan. Vivi dan Aini, dengan keceriaan mereka, membuat suasana belajar selalu hangat. Di sisi lain, ada Leni, Arin, Selfi, dan Mega—anak-anak perempuan yang mulai merasakan cinta-cintaan ala anak kecil, saling bertukar tatapan malu-malu di tengah canda yang sering kali diiringi gelak tawa. Mereka semua adalah potret kesederhanaan yang membuat Rama merasa damai, jauh dari hiruk-pikuk kota. Setiap hari di desa ini, bersama anak-anak yang riang, membangun kenangan yang akan selalu Rama bawa kemanapun ia pergi.
Rama merasa bahagia di tempat itu. Seiring waktu, ia pun bertemu Lena, seorang gadis asli desa yang kuliah di akademi keperawatan di kota. Lena pulang ke desa saat akhir pekan dan sering membantu Rama berinteraksi dengan anak-anak itu. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti menggambar, menulis puisi, dan melatih anak-anak berorasi. Lena adalah gadis yang memikat, dengan kerudung dan pakaian modis yang sesuai dengan gayanya yang santai, manja, dan sedikit romantis. Hobinya menulis puisi dan membaca sastra menjadi cara ia mengungkapkan dirinya, menambah daya tariknya di mata Rama.
Hari-hari kebersamaan mereka semakin membangun kedekatan. Lena dan Rama berbagi banyak cerita, sering kali mengungkapkan perasaan masing-masing dalam puisi-puisi yang mereka tukar diam-diam. Mereka berdua tahu, tanpa perlu bicara, bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Tetapi, karena mereka sama-sama mengajar anak-anak desa itu, Rama menjaga jarak agar tak terjadi kesalahpahaman di antara warga sekitar.
Keduanya menikmati waktu-waktu sederhana bersama anak-anak di desa. Setiap kali Lena pulang dari kota, mereka berbincang tentang sastra, rencana hidup, dan kadang-kadang tentang impian yang tak bisa mereka wujudkan. Lena ingin sekali kuliah di jurusan sastra, namun terpaksa memilih keperawatan atas desakan orang tuanya yang khawatir dengan prospek kerja seorang lulusan sastra. Pada akhirnya, berinteraksi dengan anak-anak di desa dan menghabiskan waktu bersama Rama menjadi hiburan tersendiri yang memudahkan Lena menjalani kuliahnya.
Hubungan mereka berjalan seperti ini, dengan puisi dan perasaan yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Hingga suatu hari, sebuah pertengkaran kecil pecah di kamar Rama. Lena merasa Rama terlalu menjaga jarak dan menghindar. "Kenapa kau tak pernah bisa bicara jujur padaku, Rama? Apa kau benar-benar menganggapku hanya teman?" ujar Lena dengan nada lirih, namun penuh ketegasan.
Rama, yang mencoba menyembunyikan perasaannya, terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada pelan, "Aku... hanya ingin kita tetap seperti ini, Lena. Aku tak ingin merusak apa pun."
Kata-kata itu menyakiti Lena, meski ia tahu niat Rama baik. Lena pun mendekat, memeluknya tanpa berkata-kata, namun dalam keheningan itu, air mata mereka jatuh. Di sela-sela pelukan, Lena menampar pipi Rama dengan lembut, seolah untuk menegaskan bahwa ada batas yang tak boleh mereka lewati. Kemudian, tanpa kata, ia memeluknya lagi, lama sekali, sebelum akhirnya pergi dengan perasaan campur aduk.
Setelah malam itu, Rama sadar bahwa hubungan mereka harus berhenti di sini jika ia ingin Lena bahagia. Meski hatinya terasa berat, ia memutuskan untuk meninggalkan desa itu dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan.
Hari-hari setelah kepergian Rama menjadi sunyi. Ia menumpahkan perasaannya dalam puisi-puisi yang penuh kerinduan, mencoba merelakan, meski kenangan itu tetap hidup di hatinya. Rama merasakan kehilangan yang dalam, namun ia berusaha menjalani harinya seperti biasa, menyimpan rasa cintanya dalam bait-bait sajak.
Bertahun-tahun kemudian, kehadiran Nina dalam hidup Rama membawa kisah baru. Meski kenangan Lena tetap melekat di hatinya, Rama menemukan cara untuk melanjutkan hidup dan membuka lembaran baru.
ARAH PULANG, SEPERTIGA MALAM
Deru semuanya berteriak saling mengalahkanKaki lima jajakan sisa kantuk dan senyumanDingin memasung setiap raga merekaGuratan dahi mereka, semangat kehidupan Di bawah temeram lampu jalananAku melihat iba dirikuTak berdaya menyaksikan pemulung rentaMenarik gerobak sampah sarat yang tuaHarapan keluarga…Untuk tawa kecil dan pesta sederhanaSarapan pagi seadanya. Di pojok trotoar antara perempatanTidur melingkar, tubuh rapuh kelelahanAnak usia sekolah dasar, dihardik malamMendekap tiang iklan angkuh bisu berkoarMana bundanya? Mana rumahnya?Ingatkanku akan ibu, ayah dan saudara-saudaraku Allah.. maafkan akuAku harus membohongi-Mu untuk tak ceritakan semuanyaHingga aku bisa berseru, Kau TuhankuKau juga Tuhan merekaMaka tolonglah mereka, dan akuAtau mereka saja demi akux
ARRIFA'AH - MERAJUT BENANG CAHAYA
Buku Merajut Benang Cahaya karya Arrifa'ah adalah sebuah buku yang mengupas perjalanan spiritual dan pemaknaan hidup yang mendalam. Dalam buku ini, Arrifa'ah mengajak pembaca untuk merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan melalui kisah-kisah inspiratif dan refleksi filosofis.
Buku ini menyoroti pentingnya membangun hubungan yang tulus dan ikhlas dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri. Dengan gaya bahasa yang puitis dan mendalam, Arrifa'ah menyajikan pemikiran-pemikiran yang memotivasi pembaca untuk lebih dekat dengan Tuhan, serta memahami hakikat kehidupan dengan cara yang lebih tenang dan bijak.
Merajut Benang Cahaya juga menekankan konsep keikhlasan, kesabaran, serta upaya untuk selalu melihat sisi positif dari setiap cobaan hidup. Melalui kisah dan refleksi yang disajikan, Arrifa'ah berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hati dan pikiran tetap positif serta terus berupaya menjadi pribadi yang lebih baik.
Beberapa hal yang membuat buku ini semakin menarik:
- Relevansi: Tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan manusia pada umumnya, yaitu pencarian makna hidup dan kedamaian batin.
- Gaya Bahasa: Bahasa yang digunakan sederhana namun tetap menyentuh hati, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca.
- Desain Menarik: Desain buku yang estetik membuat pengalaman membaca menjadi lebih menyenangkan.
- Pesan Universal: Pesan-pesan yang disampaikan bersifat universal, sehingga dapat dimaknai oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang dan agama.
- Inspirasi: Buku ini tidak hanya mengajak kita untuk merenung, tetapi juga memberikan inspirasi untuk terus tumbuh dan berkembang.
Catatan :Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.
MENCINTAI DALAM DIAM
Kedekatan mereka mulai terbentuk ketika Nina sering meminjamkan buku psikologi kepada Rama atau meminta bantuannya untuk hal-hal kecil, seperti mendownload lagu favoritnya. Ada satu saat di mana Nina meminta Rama mencari sebuah film Jepang berjudul One Litre of Tears, yang berkisah tentang seorang gadis SMA yang mengalami penurunan saraf otak. Alasan Nina meminta film itu adalah karena ia pernah mengalami kecelakaan dan harus menjalani terapi rutin di rumah sakit, suatu hal yang tidak banyak diketahui orang. Di antara cerita itu, ada simpul yang mulai terbentuk, mempererat kedekatan mereka.
Meski demikian, hubungan mereka tetap berjalan dalam batas yang terjaga. Tidak pernah ada momen di mana mereka berduaan, selalu ada teman di sekitar mereka. Bahkan saat berdiskusi serius pun, mereka selalu berusaha memastikan ada orang lain di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, Rama menyadari bahwa perasaan yang ia simpan semakin mendalam. Tidak hanya kekaguman, tetapi cinta yang tumbuh secara diam-diam. Namun, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ketakutan bahwa kedekatan mereka akan hancur membuatnya memilih untuk tetap diam, dan terus membantu Nina dengan perasaan yang terpendam.
Nina sendiri adalah gadis yang cuek dan terlihat tangguh. Di balik sikapnya yang terkadang tampak acuh, ada perhatian yang lembut. Meski ia tidak menyadarinya secara penuh, ia merasa nyaman berada di dekat Rama, walaupun hanya sebagai sahabat. Ada saat-saat di mana Nina merasa kehilangan ketika Rama lama tidak menghubunginya, namun ia tidak pernah menyadari apa arti perasaan itu. Suatu ketika, tanpa alasan yang jelas, ia mengirim pesan kosong ke ponsel Rama, seolah-olah hanya untuk memastikan keberadaannya. Rama merespon dengan sederhana, namun pesan kosong itu membekas di hatinya.
Kedekatan itu terus berlanjut, hingga suatu hari, setelah lebih dari dua tahun menyimpan perasaan dalam diam, Rama menulis sebuah surat panjang untuk Nina. Dalam surat itu, ia mengungkapkan cintanya yang terpendam, namun meminta agar Nina tidak membalas atau merespons perasaannya. Rama hanya ingin Nina tahu, tidak lebih dari itu. “Aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu sejak lama. Tapi, tolong jangan balas. Tetaplah seperti sebelumnya, anggap saja surat ini tak pernah ada,” tulis Rama. Setelah mengirim surat tersebut, Rama mulai menjaga jarak. Tidak ada yang berubah dari Nina, ia tetap bersikap biasa, namun Rama tidak memiliki kemampuan untuk meredam perasaannya hingga ia memilih untuk menjauh ia merasa dengan itu persahabatannya akan baik-baik saja.
Namun, Nina tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Ia tidak tahu alasan mengapa Rama tiba-tiba menghindar, dan itu membuatnya bertanya-tanya. Ketika ada teman-temannya yang mengetahui tentang surat itu dan bertanya pada Rama mengapa ia menjauh, ia hanya menjawab dengan senyum samar, tidak memberikan alasan yang jelas. Nina sendiri, meskipun merasa kehilangan, tidak pernah menunjukkan secara langsung bahwa ia rindu. Ia tetap meminta bantuan Rama dari waktu ke waktu, dan Rama, dengan perasaan yang dalam, selalu siap membantu apapun yang diminta Nina. Ia merasa terbiasa dengan membantu Nina, bahkan ia seperti menunggu hal apa lagi yang bisa ia lakukan untuk Nina, itu adalah kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Beberapa bulan setelah surat itu, Nina memberitahu Rama bahwa seseorang telah melamarnya. Berita itu disampaikan tanpa ekspresi yang berlebihan, seolah-olah hanya sebuah kabar biasa. Mendengar kabar itu, Rama merasa ada sesuatu yang akhirnya mencapai akhir, namun ia tidak terkejut. Dengan tenang ia membalas kabar tersebut dan dalam hati, ia berdoa agar laki-laki yang akan menjadi pendamping Nina adalah yang terbaik untuknya. Meski hatinya perih, Rama tetap menjalani perannya sebagai sahabat, bahkan ketika Nina meminta bantuan menyiapkan souvenir pernikahan, Rama membantunya dengan penuh rasa bahagia.
Seminggu sebelum resepsi pernikahan, Nina akan menghadapi akad nikah, sebuah momen yang tentunya penuh haru. Dalam kegundahan hatinya Rama memutuskan untuk mengibur diri ia ke Yogyakarta, kota favoritnya, merasa harus tetap memberi dukungan, meski dari kejauhan. Di pinggir jalan dekat sebuah tugu di Yogyakarta, ia berdiri menatap langit pagi sambil menelepon Nina, memberikan doa agar akad nikahnya berjalan lancar. Nina berkata “Keluargaku berharap kamu bisa datang. Aku kadang bercerita tentang kamu ke mereka, terutama ibu. Dia ingin sekali bertemu dan berterima kasih karena kamu sudah banyak membantu selama ini.” Nina berharap Rama bisa hadir saat resepsi, dan Rama hanya mengatakan semoga bisa. Dalam hati, ia tahu bahwa ia tidak kuasa untuk datang. Bukan karena menghindar, tetapi karena rasa itu sudah terlalu dalam untuk ia atasi dengan berpura-pura biasa.
Pada hari resepsi, Rama benar-benar tidak hadir. Namun, ia telah menitipkan hadiah kepada seorang teman untuk disampaikan kepada Nina. Hadiah itu adalah sebuah buku catatan kulit dengan halaman yang belum ditulis. Di dalamnya ada pesan sederhana dari Rama, "Untuk Nina, sahabatku, semoga hari-harimu selalu dipenuhi kebahagiaan dan berkah." Pesan itu terasa kosong, tetapi menyimpan makna yang dalam. Nina yang menerima hadiah itu merasakan keheningan yang panjang. Ia menatap buku itu tanpa kata, seolah-olah ada sesuatu yang hilang bersama waktu.
Rama, sementara itu, melangkah menjauh dari masa lalu. Ia memutuskan untuk benar-benar melepaskan diri, meninggalkan Nina dengan kenangan yang hanya dapat ia simpan dalam hati. Meskipun tidak hadir secara fisik, cintanya tetap ada, bersembunyi di balik doa-doa yang ia panjatkan setiap malam. Dan begitu langit kelabu menutup harinya, Rama tahu bahwa perasaannya tidak akan pernah terucap, selamanya terbungkus dalam diam.
SUMPAH PEMUDA MASA KINI
FAJAR AGUSTANTO - BIDADARI UNTUK IKHWAN
"Bidadari untuk Ikhwan" adalah sebuah novel karya Fajar Agustanto yang mengisahkan tentang perjalanan spiritual dan cinta seorang pemuda bernama Ikhwan. Ceritanya berkisar pada pencarian jati diri dan makna hidup yang sesungguhnya bagi Ikhwan, seorang pemuda yang tumbuh di tengah-tengah kehidupan modern yang penuh godaan.
Ikhwan, yang awalnya hanya mengikuti arus kehidupan dan jauh dari nilai-nilai keislaman, mengalami berbagai pengalaman yang membuka matanya terhadap pentingnya memperbaiki diri dan memperdalam keimanan. Seiring perjalanannya, Ikhwan bertemu dengan seorang wanita yang sholehah, yang diibaratkan sebagai "bidadari" dalam hidupnya. Wanita ini tidak hanya menjadi sumber inspirasi untuk berubah menjadi lebih baik, tetapi juga mengajarkan Ikhwan tentang cinta sejati yang terikat pada nilai-nilai agama.
Novel ini mengangkat tema transformasi spiritual, cinta yang dilandasi dengan ketulusan, serta pentingnya memperbaiki diri untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Melalui cerita ini, pembaca diajak merenungkan perjalanan hidup yang penuh makna dan belajar untuk selalu kembali kepada jalan yang benar.
Catatan :
Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.
SIBEL ERASLAN - 4 WANITA PENGHUNI SURGA
Catatan :Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.
SECUIL GARAM - KEPASRAHAN DAN KESEDERHANAAN
Oleh : Sarah Ismail
"Assalamu'alaikum, Mba Nur." Ku dengar suara Menik memanggil dari luar. Sementara aku sedang memasak di dapur, "Wa'alaikumsalam. Masuk, Nik," sahut ku.
Menik, tetangga sebelah rumah yang juga hidup di perantauan, sama denganku. Hanya saja ia baru tiba seminggu yang lalu. "Maaf, Mba, mau ganggu sedikit," katanya sungkan.
"Gak apa, Nik. Ada apa?" tanyaku sembari memasukkan telur ke penggorengan.
"Anu, Mba. Saya mau minta garam."
"Ooh ... Mau masak juga, ya?" ku ambil plastik ukuran seperempat bekas gula yang memang sengaja ku simpan. "Nih, lho, ambil aja." Ku serahkan plastik itu padanya. "Garamnya di sana." Sambil menunjuk wadah kecil di atas meja.
"Gak usah pakai plastik, Mba. Segini aja cukup." Ia mengambil bumbu masakan itu seujung jari. "Makasih banyak, Mba."
"Sama-sama."
Ku lanjutkan memasak telur ceplok balado dan rebus sayur bayam untuk makan siang. Jangan sampai Mas Darman keburu pulang untuk istirahat. Mas Darman --suamiku-- bekerja sebagai tukang bangunan. Dan kebetulan dapat proyek renovasi puskesmas di dekat rumah. Begitupun Joko suami Menik, menjadi kernet di tempat Mas Darman.
Profesi kuli bangunan yang gajinya seminggu sekali membuat kami para istri harus pintar-pintar membagi setiap post pengeluaran uang. Dan jika seperti sekarang, gajian baru dua hari lagi, dimana keuangan pun mulai menipis.
Setengah jam kemudian Mas Darman pulang. Setelah mencuci muka dan tangan, Mas Darman duduk bersila di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Ia terlihat lahap menyantap masakanku. Di sela-sela makan, ia bercerita perihal pekerjaannya hari ini dengan semangat.
"Sudah ceritanya, Mas. Nanti saja waktu pulang kerja biar lebih nyantai. Kebiasaan makan nyambi ngobrol. Keselek nanti," kataku mengingatkan kebiasaan buruknya. Mas Darman nyengir. Pasti ia terbayang kejadian semalam siang. Waktu itu sangking menggebu-gebu nya bercerita, Mas Darman kesedak sampai susah bernapas.
Keesokannya Mirna, putri kecil Menik datang bersama adik lelakinya. "Ada perlu apa, Mba?" tanyaku sambil tersenyum. "Kata ibu minta garam sedikit, Bude." Ia menjawab.
"Oh, ada. Ayo masuk, ikut Bude." Kedua anak itu mengekoriku ke dapur. "Lagi masak enak, ya, Ibu di rumah?" tanyaku basa basi.
"I-iya, Bude," jawab Mirna pelan.
"Nah, ini garamnya." Ku beri lebih banyak dari biasa. Tak ku pikir mengapa hanya garam saja Menik tidak bisa beli. Mungkin ia kelupaan.
Di atas kompor aku sedang memasak ayam goreng. Ketika membalik potongan ayam , tanpa sengaja aku memergoki Deni -- adik Mirna -- sedang berbisik di telinga kakaknya. Meski samar, aku masih bisa mendengar ucapannya. "Enak itu, ya, Mba." Sambil matanya tertuju pada penggorengan. Mirna menempelkan telunjuknya di bibir. Meminta adiknya untuk diam.
Ingin rasanya aku memberi, tapi potongan ayam tersebut belum matang. Biarlah setelah selesai nanti akan aku antar ke rumah mereka.
"Bude, kami permisi pulang dulu, ya ...."
"Oh iya. Ayo, bude antar ke depan."
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Ayam goreng telah masak. Ku salin ke dalam piring kaca sebelum menyimpan nya di atas meja makan. Seketika aku teringat dengan Deni. Nampaknya bocah tampan itu begitu berselera dengan menu tersebut.
Bergegas ku ambil piring kecil dan meletakkan dua potong paha ayam. Hanya dua memang, karena aku juga tidak memasak banyak. Seperti biasa, aku cuma memasak lima potong ayam. Karena belum ada anak, jadi di rumah ini hanya ada aku dan Mas Darman saja.
Ku yakin Mas Darman tidak akan marah jika jatah ayamnya berkurang. Untuk makan malam, aku akan memasakannya mie instan kuah saja.
Dengan cepat aku berjalan menuju rumah Menik. Jangan sampai keburu anak-anak itu makan siang.
Setibanya di rumah Menik, aku melihat pintu rumahnya tertutup rapat. Pasti Menik dan anaknya sedang berada di belakang. Di sana memang lebih sejuk karena ada pohon mangga besar yang menaungi.
Ku lanjutkan berjalan dari samping rumah. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan Menik dan anak-anaknya, "Buka mulutnya yang lebar, ya, Nak. Biar cepat habis selagi nasinya hangat. Nanti kalau dingin kurang enak," ucap Menik. Ia pasti sedang menyuapi Mirna dan Deni.
"Bude Nur beneran masak ayam goreng, Bu. Pasti enak itu. Wanginya aja tadi sampai sini. Deni jadi kepingin," celetuk Deni membuatku merasa bersalah. Aku menghentikan langkah, dan mencoba untuk tidak mengganggu obrolan mereka secara tiba-tiba.
"Sabar, ya, Nak. Nanti kalau bapak gajian, biar ibu masakan. Sekarang anak ganteng makan pakai ini dulu, ya ...." Menik membalas ungkapan anaknya dengan lemah lembut. Entah mengapa aku merasa ada getaran pada pengucapannya.
"Iya, Dek. Daripada kayak kemarin kita gak makan. Sakit perutnya, 'kan?" timpal Mirna. "Begini juga enak," tambahnya. Membuat rasa penasaran ku kian membuncah.
Dengan lancang, aku memutuskan diri untuk mengintip ke arah mereka. Perlahan ku rapatkan tubuh ke dinding papan rumah mereka, dan menyembulkan wajah sedikit agar dapat melihat. "Ya Allah, ampuni aku karena sudah lancang," batinku.
Ketika itu dapatlah aku melihat dengan jelas apa yang terjadi. Menik yang duduk membelakangi ku sedang menyuapi anak-anaknya makan. Di tangannya ada piring kaleng berisi nasi putih. Ya, hanya nasi putih. Tapi tunggu! Setelah ku perhatikan ternyata di bagian satu sisi piring terdapat sejumput garam. Dan Menik mengambil nasi lalu memberi sedikit garam sebelum dibulat-bulatkannya kemudian memasukkan makanan itu ke dalam mulut sang buah hati.
"Astagfirullah ...." Seketika dadaku bergetar. Mata mengembun ingin segera ditumpahkan. Aku merasa begitu berdosa. Bagaimana mungkin aku memasak makanan enak dengan bau harum nya yang sampai ke penciuman orang lain. Sementara mereka makan tanpa lauk apapun. Sungguh berdosanya diri ini. Begitu tidak peka dengan keadaan tetangga terdekat ku sendiri.
Air mata hampir tak terbendung lagi. Tapi aku harus tetap memberikan ayam ini. Tak ingin rasa bersalah semakin kuat merajai. Baiklah, aku harus mengambil aba-aba terlebih dulu. Takutnya jika aku langsung me nyelonong masuk, Menik akan merasa malu.
Ku seka bulir bening dengan ujung jilbabku. Lalu mendehem agar Menik sadar akan kehadiranku. "Nik ... Menik. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mba." Terdengar suara piring yang beradu dengan lantai.
"Lagi pada di sini," lanjut ku. Tak lagi terlihat piring berisi nasi tadi. Menik pasti sudah menyembunyikannya di balik pintu dapur.
"Iya, Mba. Lagi ngadem." Menik tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Mba?"
"Oh nggak. Ini lho, saya ada masak lebih. Buat Deni sama Mba Mirna saja, ya." Ku sodorkan piring yang berisikan dua paha ayam tersebut.
"Ya Allah, merepotkan, Mba. Nanti Mba sama Mas Darman kekurangan, lho." Ia belum juga menerima.
"Gak, Nik. Mba lupa kalau Mas Darman pulangnya sekalian sore. Jadi pasti kesisa ini. Sayang, 'kan ... Udah terima aja, ya. Pamali nolak rejeki." Mata kedua anaknya berbinar penuh harap.
"Alhamdulillah, kalau begitu makasih banyak, Mba. Mudah-mudahan murah rejeki. Mba dan keluarga sehat selalu dan dilindungi Gusti Allah." Menik tampak haru. Ya Allah, padahal ini hanya dua potong ayam goreng. Bukan sekarung beras apalagi emas berlian. Tapi rasa bersyukur mereka teramat dalam.
"Bilang terima kasih sama Bude, Nak," pinta Menik kepada kedua anaknya. "Makasih, Bude ...." ucap mereka serentak.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu Bude pamit pulang. Makan yang banyak, ya, Nak," ucapku ingin segera berlalu, karena rasa sesak di dada kian bertambah.
Sepanjang jalan aku terus meminta ampun. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang, sementara terdapat tetanggaku yang tidur dalam perut kosong. Astaghfirullah ....
SAHABAT
Aku meninggalkanmu untuk hadapi duniaku
Bersama sisa kebahagiaan
saat kita bertemu
Mengeja rasa takut
satu-satu, tanpamu
Aku berani... aku yakin
Kisah kita memang tidak
ada duanya
Senyuman kita
Tertawa lepas kita
Cerita-cerita piluku padamu
Atau sandaran kepalamu di
bahuku kala sedihmu.
Indah...
Sahabat...
Kita tidak benar-benar
berpisah, karena...
Semangatmu dalam penatku
Asamu dalam sesalku
Bahagiamu dalam sedihku
Tegakmu dalam jatuhku
Adamu dalam tiadaku
Aku dan kamu
Mengukir sebuah rindu
Untuk dikenang di masa
yang jauh
Saat itu aku masih
mendengar
Tegas suaramu.
Dan dalam senyumku,
kulugaskan
Kau Sahabatku
Selalu...
MOONDANCE
Persembahan untuk langit yang cerah
Menyisir rasi bintang
berkelip megah
Meniti jalanan yang mulai
berhenti membuncah
Sebelum hidup berubah
kabut
Menghadapi mimpi binar
tersulut
Menyingsing bahagia dan
kadang rasa takut
Berdiri kembali untuk
kehidupan absurd
Berkabut ......
Persembahan untuk Tuhan
Umpatan setan dan sebuah
peraduan
Menakar neraca keadilan
Upaya sadar terakhir
Membaca buta bahasa
takdir
Pertaruhan antara iman
dan kafir
Berharap tak kan
tergelincir
Persembahan untuk bulan
Hymnekan nama-Nya dalam
diam
Untuk sekisah mimpi dan
kecupan
atau kematian suci dalam
dekapan
GELORA MUDA YANG PUDAR
Darah tumpah, air mata bercucuran, Demi tanah air, mereka relakan segalanya. Tanpa gadget, tanpa internet yang mentereng, Mereka tetap teguh, pantang menyerah.
Kini, kita dimanjakan zaman, Segala fasilitas tersedia dengan mudah. Tapi, kemana semangat juang itu pergi? Tergantikan oleh kelalaian, yang membelenggu diri.
Dunia maya menjerat, Individu semakin terpecah belah. Kepedulian terhadap negeri, semakin memudar, Terlena dalam ego, tanpa rasa bersalah.
Wahai pemuda, bangkitlah dari tidurmu! Ingatlah jasa para pahlawan, yang telah gugur. Jangan biarkan negeri ini semakin terpuruk, Bangunlah generasi emas, yang berakhlak mulia.
Mari satukan hati dan pikiran, Untuk Indonesia yang lebih baik. Jadilah pemuda yang tangguh, kreatif, dan inovatif, Agar negeri ini jaya, sepanjang masa.
DEMIKIANLAH SAAT KAU MEMBERSAMAI TUHAN
Ada seseorang yang telah belajar menemukan kedamaian dalam setiap hal kecil yang hadir di kehidupannya. Ia tidak lagi menunggu datangnya kejutan besar atau keajaiban luar biasa untuk merasa bersyukur. Sekarang, sapaan lembut seekor lebah yang hinggap di tangannya saja sudah bisa membuatnya tersenyum. Seakan itu adalah pesan dari semesta, bahwa semua yang ada di dunia ini, seberapa pun kecilnya, adalah bagian dari kasih sayang Tuhan.
Setiap hari
ia menjalani hidup dengan sederhana, dan menerima dengan hati terbuka apa pun
yang Tuhan berikan. Pagi yang tenang, hembusan angin yang menyentuh pipinya,
atau bahkan bunyi hujan yang mengetuk jendela menjadi pengingat bahwa hidup
adalah hadiah. Bukankah Tuhan tak pernah berhenti memberi, meskipun hanya lewat
sentuhan halus angin yang mengusir penat? Saat itu terjadi, ia merasa seperti
dipeluk oleh alam, seolah Tuhan sedang berkata, "Aku selalu ada di sini,
dalam segala bentuk yang kau temui."
Dulu,
mungkin ia pernah mencari kebahagiaan dalam sesuatu yang lebih besar, mengejar
mimpi-mimpi yang gemilang, berharap menemukan arti hidup dalam pencapaian
besar. Namun, perjalanan itu mengajarkannya bahwa kebahagiaan sejati bukanlah
tentang memiliki segalanya atau meraih semua impian dengan sempurna.
Kebahagiaan justru hadir dalam keikhlasan menerima yang sederhana—setetes embun
di pagi hari, warna-warni senja, atau kehangatan cangkir teh yang diseruput
perlahan.
Ia pun
menyadari, ketika seseorang mampu melihat keindahan dalam hal-hal yang
sederhana, saat itulah hatinya menjadi ringan. Tidak ada lagi rasa kecewa atau
gelisah yang berlarut-larut, karena hidup tak lagi diukur dari apa yang bisa
dicapai, melainkan dari apa yang bisa disyukuri. Segala kebahagiaan seolah
lebih dekat, lebih nyata, karena Tuhan tidak pernah jauh. Ia hadir di setiap
detail kecil yang sering terlewatkan.
PADA LANGIT DAN PADA YANG MELANGIT
Lentera yang kau nyalakan terlalu menyilaukan hatiku, tentu saja mata ini telah lelah untuk kupejamkan, tapi tak pernah kutemui yang lain ketika kubuka lagi, tatap sinar yang dianyam dari benang pelangi oleh para malaikat penjaga surga yang tersirat di manis senyummu
Jika kau sebuah bahasa, aku belum pernah mengenalnya, hingga baris-baris
tulisan ini hanya sebuah rekaan, tak lagi kujumpa petikan kata yang berasal
dari setiap daun bibirmu, kecuali semua yang tak kumengerti.
Cinta telah hidupkan aku semenjak kematianku, bukan sekejap ia hangatkan
jasat yang telah dingin dan kaku. hanya wajah tirus milikmu yang bangunkan jiwa
dari mayatku. harus berapa kali ku tanyakan. Apa karena dekatnya kau dengan
Izrail? Apa karena akan dipercepat masa perhitunganku? Apa karena kau "Bidadari
Prematur" yang terlahir untukku? Apa karena memang 'Cinta' mengutusmu
untuk menjadi cintaku?
Aku... sedikitpun belum berniat untuk bisikan lagu-lagu rindu itu kembali,
tapi telah sigap dahulu kau tutup telingamu. Aku... ada rasa jengah untuk
lewati sisa nafasku ini. dalamnya hanya berisi ruang hampa, benar-benar hampa,
kecuali sisa dian dengan lelehannya mengerdilkan sumbunya, warnanya mengelabu
pudar, bersama sisa api yang tersedak asapnya sendiri. Habis!!
Meski hanya bias cahaya hatimu yang terefleksi oleh serpihan pasir pada
dinding sukmamu, namun serasa ia telah terbitkan matahari di tengah malam buta,
menjadi benderang, segalanya nampak, semua terang, kembali menyilaukan.
TAK INGIN KAU PERGI KALI INI

Cukup sederhana untuk-Nya, ucapakan sakral yang sekali
saja membangun segala singgasana kisra dunia atau sepatah kata pula untuk
meluluhlantakannya, Dunia dan alam semesta. Menyertai titah agung yang diemban
oleh kejahilan manusia. Kemuliaan yang tak pernah tertera, karena bahkan iblis
mempertaruhkan setiap jiwa raga dan generasinya sebagai persembahan bagi
jahannam demi menagih rasa dengkinya.
Sisa masa ini,
biarkan semua berlalu hanya tentang-Mu, pandangan ini agar selalu tertuju
pada-Mu, pendengaran ini lugaskan kisah-kisah-Mu saja, hati ini lekas dalam pautan
hati-Mu, lalu sajak ini mewakilkan senyap suaraku, tak ingin Kau pergi kali ini.
Tepat, sejak seperempat bagian rembulan pancarkan
sinarnya, seperti telah cukup dapat kita merasakan kehangatannya dingin diam
kesunyian sering memasung kita, memaksakan jiwa insan hanya bernyali melawan
dari balik peraduan, bersembunyi dalam, berbisik saja dengan mimpi dan kematian,
Aku terhenyak tak mampu lagi membuat alasan, sebab di ragaku kehangatan bagai
angin berlalu, membungkam rapat lisan ini menyisakan kenyataan bahwa Ia telah
menguasaiku. Dekapan kasih yang seperti membelenggu itu, mengafaniku. Membuaiku
dengan belaian seberkas kisah lalu, kejahiliyahan dan dosa mempermainkan jiwa
dalam dekap kasih itu.
Desau pepohonan menyumpahi, riah aliran kecil
menyerapahi, bumi seperti enggan memberikan ruang untuk jejak kakiku, lalu aku
terbangun dari kejadian dan perbincangan di kepalaku, tersenyum getir sembari
berkata “aku belum terlempar jauh”.
Tampaknya begitu adil, Dia menjadikan manusia sebagai
pengatur, agar ia dapat berdampingan dengan dunia dan seisinya, agar meneladani
keadilan yang telah diibaratkan oleh yang Maha Adil, agar mensketsa jiwa,
merangkai keluarga, membina masyarakat, membangun negara dan mendamaikan alam
semesta. Sementara, pepohonan, sungai-sungai, daratan, lautan, pegunungan, bintang-bintang,
rembulan dan matahari menjadi penyaksinya.
Duhai Paduka, mengingat-Mu mengerdilkanku menjadi
remah senyawa yang tak berdaya, menyebut-Mu menghancurkan keangkuhan
manusiawiku, membayangkan-Mu membuat segera ingin bertemu kesejatianku.


















