ARAH PULANG SEPERTIGA MALAM - MP3

Puisi ini merupakan gambaran di jalanan ketika saya pulang bekerja pada saat masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Gresik, saya bekerja di Warnet Rifki yang lokasinya di Kecamatan Kebomas, ketika saya kena shif malam, saya bekerja mulai pukul 17.00 sampai pukul 05.00 WIB namun seringkali pukul 01.00 atau 02.00 WIB saya sudah diperbolehkan meninggalkat tempat kerja jika warnet sedang sepi, sebenarnya warnet disediakan tempat menginap, namun saya seringkali memilih pulang agar ketika kuliah besok paginya saya sudah di rumah dan persiapan kuliah dari pada menginap dan pulang waktu paginya mengingat lokasi warnet lumayan jauh dari kost dan kampus.


Bisa juga didownload lho




GREAT WAR - CATATAN LENA

Manusia dikaruniai akal dan fikiran untuk menafakuri apa yang tercipta di hadapnya. Untuk menerjemahkan benar dan salah. Namun sekuasa apakah akal itu mengambil segala kendali logika? Ya.. sesosok musuh besar bernama nafsu dan emosi turut berperan serta? Apakah ini hanya masalah menang dan kalah? Antara emosi dan logika?

Ada hal yang dengan sekuat hati kupertaruhkan untuk mengendalikan permusuhan mereka (emosi dan logika). Sebagai juri yang adil, aku benar-benar kesulitan saat dengan segala kecurangan yang terselubung emosi itu meguasai arena jiwaku. Kuberikan semangat pada logika untuk menghentikan ego liar itu, tapi bagaikan menabur sekam pada api ia tak jua menyerah henti. Kutangisi logikaku yang tak bisa mengendalikan diri, sungguh merana nasibnya kala itu. Dan mungkin ia pun ikut menangisiku.

Aku berteriak, ingin kuhentikan semua ini, tapi sang emosi tak pernah puas akan apa yang telah diperbuatnya. Ingin kumenangkan logika, tapi ego membuatku memihak pada emosi yang keliru. Seakan-akan aku kalah, mungkin saat itu akulah juri terbodoh yang pernah ada dalam 22 tahun pertarungan tanpa henti antara mereka. Memang terkadang logika itu menang tapi selalu saja emosi itu bagaikan mendapat suplemen penambah energi dari entah situasi-siatuasi yang mendukungnya.

Perlahan-lahan kudekati emosi. Matanya tampak menantang di hadapanku. Kutantang pandangannya yang tampak nanar itu, kukira aku akan menemukan bara kebengisan yang berkobar merah, tapi hey...?!! ternyata aku salah. Sedikit terkejut ternyata kutemukan sesuatu yang lain dalam liarnya, dalam wujud gagahnya. Awalnya aku tak tahu ia apa, begitu sendu, begitu indah, dan sangat aneh. Perlahan ia mendatangiku dan mengecup hatiku, hingga mengalir air mataku, lalu ia menggenggam tanganku dalam kehangatan yang maha sempurna. Kutinggalkan ia dengan segala kepengecutanku untuk menghadapinya. 

Aku berlari pada teman baikku logika. Kuceritakan padanya saat aku menemui emosi. Ia berkata “Sekian lama aku memeranginya, aku tak pernah menemukan awal dan sebabnya hingga tak kutemukan cara untuk mengalahkannya, apa yang harus aku lakukan untukmu? Telah kukerahkan segala dayaku untuk membelamu dihadapan bajingan emosi itu. Tapi kalau boleh jujur, aku sungguh sangat lelah..” Kulihat kesungguhan dalam setiap kata-katanya. Kulihat ia memang begitu lelah, begitu kalah. Sungguh tak tega aku menyuruhnya kembali membunuh emosi yang selalu gagal dilakukannya.

Dengan keberanian yang sungguh konyol, demi membantu logika kutemui kembali emosi. Aku bertekad akan menanyainya tentang apa yang membuat logika tak pernah menang melawannya. Kudapati ia sedang duduk sendiri. Kembali kutatap mata nanar itu. Perlahan ia berkedip padaku, tatapan mata itu telah berubah, ia bukanlah emosi yang aku kenal dulu, kuberanikan diri untuk bertanya, “Mengapa...?” ia menjawab. “Kau tak pernah mau adil padaku, pahal kau bisa itu. Kau tak pernah berani jujur untukku, padahal kau tahu itu. Kau selalu ingin membunuhku dengan logikamu, tapi apa kau yankin aku memang selalu bersalah dan pantas untuk kau bunuh? Padahal kau belum mengerti aku. Aku tak pernah menantang untuk memusuhimu, tapi kau yang selalu mengobarkan pertempuran dalam ruang jiwamu, Akulah amarah, akulah kecewa, dan akulah sedihmu. Tapi apa kau lupa bahwa aku juga adalah cinta, akulah sayang, akulah bahagia, Seandainya saja kau mengijinkanku berjalan bersama dengan logika, dan menjadikannya sahabat setia, kau tak perlu bersusah-susah untuk memerangiku, Benar kan..?!”
Dan aku hanya terpaku mendengar kata-katanya.

RASA, DIAM DAN CINTA

Matahari pagi perlahan mengintip di balik bukit, menyinari sawah-sawah hijau yang terhampar luas, membawa hangatnya pada desa kecil yang damai itu. Di sanalah Rama memulai harinya, mengabdikan diri sebagai guru di Sekolah Dasar setempat. Bagi anak-anak desa, ia bukan sekadar pengajar, tetapi seorang teman yang mereka kasihi, selalu siap mendengar cerita dan kegelisahan mereka. Kehidupan desa yang sederhana tapi penuh tawa membuat setiap harinya terasa istimewa. Senyum dan canda polos dari anak-anak menjadi kekuatan tersendiri bagi Rama, yang menemukan makna dan kebahagiaan dalam setiap momen bersama mereka.

Dani, si murid pintar yang penuh rasa penasaran, selalu mengangkat tangan paling cepat ketika Rama mengajukan pertanyaan. Pipin dengan tawanya yang riang, Bayu yang pendiam namun penuh perhatian, serta Pendi yang pemalu selalu hadir membawa warna-warna kecil yang meneduhkan. Vivi dan Aini, dengan keceriaan mereka, membuat suasana belajar selalu hangat. Di sisi lain, ada Leni, Arin, Selfi, dan Mega—anak-anak perempuan yang mulai merasakan cinta-cintaan ala anak kecil, saling bertukar tatapan malu-malu di tengah canda yang sering kali diiringi gelak tawa. Mereka semua adalah potret kesederhanaan yang membuat Rama merasa damai, jauh dari hiruk-pikuk kota. Setiap hari di desa ini, bersama anak-anak yang riang, membangun kenangan yang akan selalu Rama bawa kemanapun ia pergi.

Rama merasa bahagia di tempat itu. Seiring waktu, ia pun bertemu Lena, seorang gadis asli desa yang kuliah di akademi keperawatan di kota. Lena pulang ke desa saat akhir pekan dan sering membantu Rama berinteraksi dengan anak-anak itu. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti menggambar, menulis puisi, dan melatih anak-anak berorasi. Lena adalah gadis yang memikat, dengan kerudung dan pakaian modis yang sesuai dengan gayanya yang santai, manja, dan sedikit romantis. Hobinya menulis puisi dan membaca sastra menjadi cara ia mengungkapkan dirinya, menambah daya tariknya di mata Rama.

Hari-hari kebersamaan mereka semakin membangun kedekatan. Lena dan Rama berbagi banyak cerita, sering kali mengungkapkan perasaan masing-masing dalam puisi-puisi yang mereka tukar diam-diam. Mereka berdua tahu, tanpa perlu bicara, bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Tetapi, karena mereka sama-sama mengajar anak-anak desa itu, Rama menjaga jarak agar tak terjadi kesalahpahaman di antara warga sekitar.

Keduanya menikmati waktu-waktu sederhana bersama anak-anak di desa. Setiap kali Lena pulang dari kota, mereka berbincang tentang sastra, rencana hidup, dan kadang-kadang tentang impian yang tak bisa mereka wujudkan. Lena ingin sekali kuliah di jurusan sastra, namun terpaksa memilih keperawatan atas desakan orang tuanya yang khawatir dengan prospek kerja seorang lulusan sastra. Pada akhirnya, berinteraksi dengan anak-anak di desa dan menghabiskan waktu bersama Rama menjadi hiburan tersendiri yang memudahkan Lena menjalani kuliahnya.

Hubungan mereka berjalan seperti ini, dengan puisi dan perasaan yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Hingga suatu hari, sebuah pertengkaran kecil pecah di kamar Rama. Lena merasa Rama terlalu menjaga jarak dan menghindar. "Kenapa kau tak pernah bisa bicara jujur padaku, Rama? Apa kau benar-benar menganggapku hanya teman?" ujar Lena dengan nada lirih, namun penuh ketegasan.

Rama, yang mencoba menyembunyikan perasaannya, terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada pelan, "Aku... hanya ingin kita tetap seperti ini, Lena. Aku tak ingin merusak apa pun."

Kata-kata itu menyakiti Lena, meski ia tahu niat Rama baik. Lena pun mendekat, memeluknya tanpa berkata-kata, namun dalam keheningan itu, air mata mereka jatuh. Di sela-sela pelukan, Lena menampar pipi Rama dengan lembut, seolah untuk menegaskan bahwa ada batas yang tak boleh mereka lewati. Kemudian, tanpa kata, ia memeluknya lagi, lama sekali, sebelum akhirnya pergi dengan perasaan campur aduk.

Setelah malam itu, Rama sadar bahwa hubungan mereka harus berhenti di sini jika ia ingin Lena bahagia. Meski hatinya terasa berat, ia memutuskan untuk meninggalkan desa itu dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan.

Hari-hari setelah kepergian Rama menjadi sunyi. Ia menumpahkan perasaannya dalam puisi-puisi yang penuh kerinduan, mencoba merelakan, meski kenangan itu tetap hidup di hatinya. Rama merasakan kehilangan yang dalam, namun ia berusaha menjalani harinya seperti biasa, menyimpan rasa cintanya dalam bait-bait sajak.

Bertahun-tahun kemudian, kehadiran Nina dalam hidup Rama membawa kisah baru. Meski kenangan Lena tetap melekat di hatinya, Rama menemukan cara untuk melanjutkan hidup dan membuka lembaran baru.

ARAH PULANG, SEPERTIGA MALAM

Dalam bait malam tepi jalanan
Deru semuanya berteriak saling mengalahkan
Kaki lima jajakan sisa kantuk dan senyuman
Dingin memasung setiap raga mereka
Guratan dahi mereka, semangat kehidupan
 
Di bawah temeram lampu jalanan
Aku melihat iba diriku
Tak berdaya menyaksikan pemulung renta
Menarik gerobak sampah sarat yang tua
Harapan keluarga…
Untuk tawa kecil dan pesta sederhana
Sarapan pagi seadanya.
 
Di pojok trotoar antara perempatan
Tidur melingkar, tubuh rapuh kelelahan
Anak usia sekolah dasar, dihardik malam
Mendekap tiang iklan angkuh bisu berkoar
Mana bundanya? Mana rumahnya?
Ingatkanku akan ibu, ayah dan saudara-saudaraku
 
Allah.. maafkan aku
Aku harus membohongi-Mu untuk tak ceritakan semuanya
Hingga aku bisa berseru, Kau Tuhanku
Kau juga Tuhan mereka
Maka tolonglah mereka, dan aku
Atau mereka saja demi aku
x

ARRIFA'AH - MERAJUT BENANG CAHAYA

Buku Merajut Benang Cahaya karya Arrifa'ah adalah sebuah buku yang mengupas perjalanan spiritual dan pemaknaan hidup yang mendalam. Dalam buku ini, Arrifa'ah mengajak pembaca untuk merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan melalui kisah-kisah inspiratif dan refleksi filosofis.

Buku ini menyoroti pentingnya membangun hubungan yang tulus dan ikhlas dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri. Dengan gaya bahasa yang puitis dan mendalam, Arrifa'ah menyajikan pemikiran-pemikiran yang memotivasi pembaca untuk lebih dekat dengan Tuhan, serta memahami hakikat kehidupan dengan cara yang lebih tenang dan bijak.

Merajut Benang Cahaya juga menekankan konsep keikhlasan, kesabaran, serta upaya untuk selalu melihat sisi positif dari setiap cobaan hidup. Melalui kisah dan refleksi yang disajikan, Arrifa'ah berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hati dan pikiran tetap positif serta terus berupaya menjadi pribadi yang lebih baik.

Beberapa hal yang membuat buku ini semakin menarik:

  • Relevansi: Tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan manusia pada umumnya, yaitu pencarian makna hidup dan kedamaian batin.
  • Gaya Bahasa: Bahasa yang digunakan sederhana namun tetap menyentuh hati, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca.
  • Desain Menarik: Desain buku yang estetik membuat pengalaman membaca menjadi lebih menyenangkan.
  • Pesan Universal: Pesan-pesan yang disampaikan bersifat universal, sehingga dapat dimaknai oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang dan agama.
  • Inspirasi: Buku ini tidak hanya mengajak kita untuk merenung, tetapi juga memberikan inspirasi untuk terus tumbuh dan berkembang.
Catatan : 
Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.

MENCINTAI DALAM DIAM

Pertemuan pertama antara Rama dan Nina terjadi saat orientasi mahasiswa baru. Nina adalah kakak tingkat yang menjadi pendamping kelompok ospek di fakultas psikologi. Ia selalu terlihat tenang dan penuh wibawa, dengan kerudung panjang dan jubah yang anggun menutupi tubuhnya. Penampilan yang sederhana namun memikat. Bagi Rama, Nina tampak istimewa sejak pandangan pertama, namun ia menyimpan kekaguman itu dalam-dalam. Ia adalah tipe orang yang tidak mudah membuka hati, lebih memilih memendam perasaan daripada mengekspresikannya.

Kedekatan mereka mulai terbentuk ketika Nina sering meminjamkan buku psikologi kepada Rama atau meminta bantuannya untuk hal-hal kecil, seperti mendownload lagu favoritnya. Ada satu saat di mana Nina meminta Rama mencari sebuah film Jepang berjudul One Litre of Tears, yang berkisah tentang seorang gadis SMA yang mengalami penurunan saraf otak. Alasan Nina meminta film itu adalah karena ia pernah mengalami kecelakaan dan harus menjalani terapi rutin di rumah sakit, suatu hal yang tidak banyak diketahui orang. Di antara cerita itu, ada simpul yang mulai terbentuk, mempererat kedekatan mereka.

Meski demikian, hubungan mereka tetap berjalan dalam batas yang terjaga. Tidak pernah ada momen di mana mereka berduaan, selalu ada teman di sekitar mereka. Bahkan saat berdiskusi serius pun, mereka selalu berusaha memastikan ada orang lain di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, Rama menyadari bahwa perasaan yang ia simpan semakin mendalam. Tidak hanya kekaguman, tetapi cinta yang tumbuh secara diam-diam. Namun, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ketakutan bahwa kedekatan mereka akan hancur membuatnya memilih untuk tetap diam, dan terus membantu Nina dengan perasaan yang terpendam.

Nina sendiri adalah gadis yang cuek dan terlihat tangguh. Di balik sikapnya yang terkadang tampak acuh, ada perhatian yang lembut. Meski ia tidak menyadarinya secara penuh, ia merasa nyaman berada di dekat Rama, walaupun hanya sebagai sahabat. Ada saat-saat di mana Nina merasa kehilangan ketika Rama lama tidak menghubunginya, namun ia tidak pernah menyadari apa arti perasaan itu. Suatu ketika, tanpa alasan yang jelas, ia mengirim pesan kosong ke ponsel Rama, seolah-olah hanya untuk memastikan keberadaannya. Rama merespon dengan sederhana, namun pesan kosong itu membekas di hatinya.

Kedekatan itu terus berlanjut, hingga suatu hari, setelah lebih dari dua tahun menyimpan perasaan dalam diam, Rama menulis sebuah surat panjang untuk Nina. Dalam surat itu, ia mengungkapkan cintanya yang terpendam, namun meminta agar Nina tidak membalas atau merespons perasaannya. Rama hanya ingin Nina tahu, tidak lebih dari itu. “Aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu sejak lama. Tapi, tolong jangan balas. Tetaplah seperti sebelumnya, anggap saja surat ini tak pernah ada,” tulis Rama. Setelah mengirim surat tersebut, Rama mulai menjaga jarak. Tidak ada yang berubah dari Nina, ia tetap bersikap biasa, namun Rama tidak memiliki kemampuan untuk meredam perasaannya hingga ia memilih untuk menjauh ia merasa dengan itu persahabatannya akan baik-baik saja.

Namun, Nina tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Ia tidak tahu alasan mengapa Rama tiba-tiba menghindar, dan itu membuatnya bertanya-tanya. Ketika ada teman-temannya yang mengetahui tentang surat itu dan bertanya pada Rama mengapa ia menjauh, ia hanya menjawab dengan senyum samar, tidak memberikan alasan yang jelas. Nina sendiri, meskipun merasa kehilangan, tidak pernah menunjukkan secara langsung bahwa ia rindu. Ia tetap meminta bantuan Rama dari waktu ke waktu, dan Rama, dengan perasaan yang dalam, selalu siap membantu apapun yang diminta Nina. Ia merasa terbiasa dengan membantu Nina, bahkan ia seperti menunggu hal apa lagi yang bisa ia lakukan untuk Nina, itu adalah kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Beberapa bulan setelah surat itu, Nina memberitahu Rama bahwa seseorang telah melamarnya. Berita itu disampaikan tanpa ekspresi yang berlebihan, seolah-olah hanya sebuah kabar biasa. Mendengar kabar itu, Rama merasa ada sesuatu yang akhirnya mencapai akhir, namun ia tidak terkejut. Dengan tenang ia membalas kabar tersebut dan dalam hati, ia berdoa agar laki-laki yang akan menjadi pendamping Nina adalah yang terbaik untuknya. Meski hatinya perih, Rama tetap menjalani perannya sebagai sahabat, bahkan ketika Nina meminta bantuan menyiapkan souvenir pernikahan, Rama membantunya dengan penuh rasa bahagia.

Seminggu sebelum resepsi pernikahan, Nina akan menghadapi akad nikah, sebuah momen yang tentunya penuh haru. Dalam kegundahan hatinya Rama memutuskan untuk mengibur diri ia ke Yogyakarta, kota favoritnya, merasa harus tetap memberi dukungan, meski dari kejauhan. Di pinggir jalan dekat sebuah tugu di Yogyakarta, ia berdiri menatap langit pagi sambil menelepon Nina, memberikan doa agar akad nikahnya berjalan lancar. Nina berkata “Keluargaku berharap kamu bisa datang. Aku kadang bercerita tentang kamu ke mereka, terutama ibu. Dia ingin sekali bertemu dan berterima kasih karena kamu sudah banyak membantu selama ini.” Nina berharap Rama bisa hadir saat resepsi, dan Rama hanya mengatakan semoga bisa. Dalam hati, ia tahu bahwa ia tidak kuasa untuk datang. Bukan karena menghindar, tetapi karena rasa itu sudah terlalu dalam untuk ia atasi dengan berpura-pura biasa.

Pada hari resepsi, Rama benar-benar tidak hadir. Namun, ia telah menitipkan hadiah kepada seorang teman untuk disampaikan kepada Nina. Hadiah itu adalah sebuah buku catatan kulit dengan halaman yang belum ditulis. Di dalamnya ada pesan sederhana dari Rama, "Untuk Nina, sahabatku, semoga hari-harimu selalu dipenuhi kebahagiaan dan berkah." Pesan itu terasa kosong, tetapi menyimpan makna yang dalam. Nina yang menerima hadiah itu merasakan keheningan yang panjang. Ia menatap buku itu tanpa kata, seolah-olah ada sesuatu yang hilang bersama waktu.

Rama, sementara itu, melangkah menjauh dari masa lalu. Ia memutuskan untuk benar-benar melepaskan diri, meninggalkan Nina dengan kenangan yang hanya dapat ia simpan dalam hati. Meskipun tidak hadir secara fisik, cintanya tetap ada, bersembunyi di balik doa-doa yang ia panjatkan setiap malam. Dan begitu langit kelabu menutup harinya, Rama tahu bahwa perasaannya tidak akan pernah terucap, selamanya terbungkus dalam diam.

SUMPAH PEMUDA MASA KINI

Kami pemuda Indonesia,
Tak lagi hanya bicara tentang janji,
Di tengah arus deras teknologi,
Kami berdiri, tak gentar menghadapi.

Sumpah kami bukan sekadar kata,
Tapi aksi nyata yang terus menyala,
Merawat bangsa dengan jiwa merdeka,
Menembus batas tanpa rasa lelah.

Di tangan kami masa depan berpijar,
Membangun negeri dengan semangat membara,
Tak gentar melawan tantangan yang datang menyambar,
Melangkah pasti, bersama menatap cakrawala.

Bahasa yang kami ucapkan bukan hanya tutur,
Tapi suara yang lantang menembus semua sekat,
Beda budaya, beda warna, kami tetap satu darah,
Di dada ini, merah putih berkibar kuat.

Tak peduli zaman berubah cepat,
Kami tetap menggenggam cita yang hebat,
Melukis masa depan dengan keberanian dan harapan,
Mengisi kemerdekaan dengan karya dan kebermanfaatan.

Mari bangkit, pemuda Indonesia,
Jangan biarkan mimpi hanya di angan saja,
Kita adalah gelora yang tak pernah padam,
Sumpah Pemuda adalah nyala semangat yang tak pernah tenggelam.

Bersatulah, bangun negeri dengan cinta,
Karena kita bukan hanya pemilik masa kini,
Namun penentu arah untuk masa depan nanti,
Dengan semangat Sumpah Pemuda, kita mengukir sejarah kembali.

FAJAR AGUSTANTO - BIDADARI UNTUK IKHWAN

"Bidadari untuk Ikhwan" adalah sebuah novel karya Fajar Agustanto yang mengisahkan tentang perjalanan spiritual dan cinta seorang pemuda bernama Ikhwan. Ceritanya berkisar pada pencarian jati diri dan makna hidup yang sesungguhnya bagi Ikhwan, seorang pemuda yang tumbuh di tengah-tengah kehidupan modern yang penuh godaan.

Ikhwan, yang awalnya hanya mengikuti arus kehidupan dan jauh dari nilai-nilai keislaman, mengalami berbagai pengalaman yang membuka matanya terhadap pentingnya memperbaiki diri dan memperdalam keimanan. Seiring perjalanannya, Ikhwan bertemu dengan seorang wanita yang sholehah, yang diibaratkan sebagai "bidadari" dalam hidupnya. Wanita ini tidak hanya menjadi sumber inspirasi untuk berubah menjadi lebih baik, tetapi juga mengajarkan Ikhwan tentang cinta sejati yang terikat pada nilai-nilai agama.

Novel ini mengangkat tema transformasi spiritual, cinta yang dilandasi dengan ketulusan, serta pentingnya memperbaiki diri untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Melalui cerita ini, pembaca diajak merenungkan perjalanan hidup yang penuh makna dan belajar untuk selalu kembali kepada jalan yang benar.

Catatan : 
Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.

SIBEL ERASLAN - 4 WANITA PENGHUNI SURGA

Dalam ajaran Islam terdapat empat wanita yang disebut sebagai penghuni surga yang mulia. Mereka adalah wanita-wanita yang memiliki kedudukan tinggi dan diakui karena kesalehan, keteguhan iman, dan pengorbanan mereka. Keempat wanita tersebut adalah:

1. Maryam binti Imran (Maryam, ibu Nabi Isa)
Maryam dikenal karena kesucian dan ketakwaannya. Ia adalah ibu dari Nabi Isa (Yesus) dan merupakan salah satu wanita paling mulia dalam Islam. Maryam diberikan mukjizat berupa kelahiran Nabi Isa tanpa seorang ayah.
2. Asiyah binti Muzahim
Asiyah adalah istri dari Firaun yang kejam, tetapi meskipun hidup dalam kemewahan istana, ia tetap beriman kepada Allah dan menentang kekafiran suaminya. Asiyah dikenal karena keteguhan imannya meski harus menghadapi siksaan dari Firaun.
3. Khadijah binti Khuwailid
Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad dan wanita pertama yang masuk Islam. Ia selalu mendukung dan menyemangati Nabi Muhammad dalam perjuangan dakwahnya. Khadijah juga dikenal sebagai wanita yang kaya dan dermawan, yang menggunakan hartanya untuk membantu perjuangan Islam.
4. Fatimah binti Muhammad
Fatimah adalah putri Nabi Muhammad dan dikenal karena ketakwaan serta kesederhanaannya. Ia selalu mendukung ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian. Fatimah juga dikenal sebagai ibu dari Hasan dan Husain, cucu-cucu Nabi yang sangat dicintai.
Catatan : 
Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.

SECUIL GARAM - KEPASRAHAN DAN KESEDERHANAAN

Oleh  :   Sarah Ismail 

"Assalamu'alaikum, Mba Nur." Ku dengar suara Menik memanggil dari luar. Sementara aku sedang memasak di dapur, "Wa'alaikumsalam. Masuk, Nik," sahut ku. 

Menik, tetangga sebelah rumah yang juga hidup di perantauan, sama denganku. Hanya saja ia baru tiba seminggu yang lalu. "Maaf, Mba, mau ganggu sedikit," katanya sungkan. 

"Gak apa, Nik. Ada apa?" tanyaku sembari memasukkan telur ke penggorengan. 

"Anu, Mba. Saya mau minta garam." 

"Ooh ... Mau masak juga, ya?" ku ambil plastik ukuran seperempat bekas gula yang memang sengaja ku simpan. "Nih, lho, ambil aja." Ku serahkan plastik itu padanya. "Garamnya di sana." Sambil menunjuk wadah kecil di atas meja. 

"Gak usah pakai plastik, Mba. Segini aja cukup." Ia mengambil bumbu masakan itu seujung jari. "Makasih banyak, Mba." 

"Sama-sama." 

Ku lanjutkan memasak telur ceplok balado dan rebus sayur bayam untuk makan siang. Jangan sampai Mas Darman keburu pulang untuk istirahat. Mas Darman  --suamiku-- bekerja sebagai tukang bangunan. Dan kebetulan dapat proyek renovasi puskesmas di dekat rumah. Begitupun Joko suami Menik, menjadi kernet di tempat Mas Darman. 

Profesi kuli bangunan yang gajinya seminggu sekali membuat kami para istri harus pintar-pintar membagi setiap post pengeluaran uang. Dan jika seperti sekarang, gajian baru dua hari lagi, dimana keuangan pun mulai menipis.

Setengah jam kemudian Mas Darman pulang. Setelah mencuci muka dan tangan, Mas Darman duduk bersila di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Ia terlihat lahap menyantap masakanku. Di sela-sela makan, ia bercerita perihal pekerjaannya hari ini dengan semangat. 

"Sudah ceritanya, Mas. Nanti saja waktu pulang kerja biar lebih nyantai. Kebiasaan makan nyambi ngobrol. Keselek nanti," kataku mengingatkan kebiasaan buruknya. Mas Darman nyengir. Pasti ia terbayang kejadian semalam siang. Waktu itu sangking menggebu-gebu nya bercerita, Mas Darman kesedak sampai susah bernapas. 

Keesokannya Mirna, putri kecil Menik datang bersama adik lelakinya. "Ada perlu apa, Mba?" tanyaku sambil tersenyum. "Kata ibu minta garam sedikit, Bude." Ia menjawab. 

"Oh, ada. Ayo masuk, ikut Bude." Kedua anak itu mengekoriku ke dapur. "Lagi masak enak, ya, Ibu di rumah?" tanyaku basa basi. 

"I-iya, Bude," jawab Mirna pelan. 

"Nah, ini garamnya." Ku beri lebih banyak dari biasa. Tak ku pikir mengapa hanya garam saja Menik tidak bisa beli. Mungkin ia kelupaan. 

Di atas kompor aku sedang memasak ayam goreng. Ketika membalik potongan ayam , tanpa sengaja aku memergoki Deni -- adik Mirna -- sedang berbisik di telinga kakaknya. Meski samar, aku masih bisa mendengar ucapannya. "Enak itu, ya, Mba." Sambil matanya tertuju pada penggorengan. Mirna menempelkan telunjuknya di bibir. Meminta adiknya untuk diam. 

Ingin rasanya aku memberi, tapi potongan ayam tersebut belum matang. Biarlah setelah selesai nanti akan aku antar ke rumah mereka. 

"Bude, kami permisi pulang dulu, ya ...." 

"Oh iya. Ayo, bude antar ke depan." 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Ayam goreng telah masak. Ku salin ke dalam piring kaca sebelum menyimpan nya di atas meja makan. Seketika aku teringat dengan Deni. Nampaknya bocah tampan itu begitu berselera dengan menu tersebut. 

Bergegas ku ambil piring kecil dan meletakkan dua potong paha ayam. Hanya dua memang, karena aku juga tidak memasak banyak. Seperti biasa, aku cuma memasak lima potong ayam. Karena belum ada anak, jadi di rumah ini hanya ada aku dan Mas Darman saja. 

Ku yakin Mas Darman tidak akan marah jika jatah ayamnya berkurang. Untuk makan malam, aku akan memasakannya mie instan kuah saja. 

Dengan cepat aku berjalan menuju rumah Menik. Jangan sampai keburu anak-anak itu makan siang. 

Setibanya di rumah Menik, aku melihat pintu rumahnya tertutup rapat. Pasti Menik dan anaknya sedang berada di belakang. Di sana memang lebih sejuk karena ada pohon mangga besar yang menaungi. 

Ku lanjutkan berjalan dari samping rumah. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan Menik dan anak-anaknya, "Buka mulutnya yang lebar, ya, Nak. Biar cepat habis selagi nasinya hangat. Nanti kalau dingin kurang enak," ucap Menik. Ia pasti sedang menyuapi Mirna dan Deni. 

"Bude Nur beneran masak ayam goreng, Bu. Pasti enak itu. Wanginya aja tadi sampai sini. Deni jadi kepingin," celetuk Deni membuatku merasa bersalah. Aku menghentikan langkah, dan mencoba untuk tidak mengganggu obrolan mereka secara tiba-tiba. 

"Sabar, ya, Nak. Nanti kalau bapak gajian, biar ibu masakan. Sekarang anak ganteng makan pakai ini dulu, ya ...." Menik membalas ungkapan anaknya dengan lemah lembut. Entah mengapa aku merasa ada getaran pada pengucapannya. 

"Iya, Dek. Daripada kayak kemarin kita gak makan. Sakit perutnya, 'kan?" timpal Mirna. "Begini juga enak," tambahnya. Membuat rasa penasaran ku kian membuncah. 

Dengan lancang, aku memutuskan diri untuk mengintip ke arah mereka. Perlahan ku rapatkan tubuh ke dinding papan rumah mereka, dan menyembulkan wajah sedikit agar dapat melihat. "Ya Allah, ampuni aku karena sudah lancang," batinku. 

Ketika itu dapatlah aku melihat dengan jelas apa yang terjadi. Menik yang duduk membelakangi ku sedang menyuapi anak-anaknya makan. Di tangannya ada piring kaleng berisi nasi putih. Ya, hanya nasi putih. Tapi tunggu! Setelah ku perhatikan ternyata di bagian satu sisi piring terdapat sejumput garam. Dan Menik mengambil nasi lalu memberi sedikit garam sebelum dibulat-bulatkannya kemudian memasukkan makanan itu ke dalam mulut sang buah hati. 

"Astagfirullah ...." Seketika dadaku bergetar. Mata mengembun ingin segera ditumpahkan. Aku merasa begitu berdosa. Bagaimana mungkin aku memasak makanan enak dengan bau harum nya yang sampai ke penciuman orang lain. Sementara mereka makan tanpa lauk apapun. Sungguh berdosanya diri ini. Begitu tidak peka dengan keadaan tetangga terdekat ku sendiri. 

Air mata hampir tak terbendung lagi. Tapi aku harus tetap memberikan ayam ini. Tak ingin rasa bersalah semakin kuat merajai. Baiklah, aku harus mengambil aba-aba terlebih dulu. Takutnya jika aku langsung me nyelonong masuk, Menik akan merasa malu. 

Ku seka bulir bening dengan ujung jilbabku. Lalu mendehem agar Menik sadar akan kehadiranku. "Nik ... Menik. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, Mba." Terdengar suara piring yang beradu dengan lantai. 

"Lagi pada di sini," lanjut ku. Tak lagi terlihat piring berisi nasi tadi. Menik pasti sudah menyembunyikannya di balik pintu dapur. 

"Iya, Mba. Lagi ngadem." Menik tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Mba?" 

"Oh nggak. Ini lho, saya ada masak lebih. Buat Deni sama Mba Mirna saja, ya." Ku sodorkan piring yang berisikan dua paha ayam tersebut. 

"Ya Allah, merepotkan, Mba. Nanti Mba sama Mas Darman kekurangan, lho." Ia belum juga menerima. 

"Gak, Nik. Mba lupa kalau Mas Darman pulangnya sekalian sore. Jadi pasti kesisa ini. Sayang, 'kan ... Udah terima aja, ya. Pamali nolak rejeki." Mata kedua anaknya berbinar penuh harap. 

"Alhamdulillah, kalau begitu makasih banyak, Mba. Mudah-mudahan murah rejeki. Mba dan keluarga sehat selalu dan dilindungi Gusti Allah." Menik tampak haru. Ya Allah, padahal ini hanya dua potong ayam goreng. Bukan sekarung beras apalagi emas berlian. Tapi rasa bersyukur mereka teramat dalam. 

"Bilang terima kasih sama Bude, Nak," pinta Menik kepada kedua anaknya. "Makasih, Bude ...." ucap mereka serentak. 

"Iya, sama-sama. Kalau begitu Bude pamit pulang. Makan yang banyak, ya, Nak," ucapku ingin segera berlalu, karena rasa sesak di dada kian bertambah. 

Sepanjang jalan aku terus meminta ampun. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang, sementara terdapat tetanggaku yang tidur dalam perut kosong. Astaghfirullah .... 

SAHABAT

 


Aku meninggalkanmu untuk hadapi duniaku

Bersama sisa kebahagiaan saat kita bertemu

Mengeja rasa takut satu-satu, tanpamu

Aku berani... aku yakin

 

Kisah kita memang tidak ada duanya

Senyuman kita

Tertawa lepas kita

Cerita-cerita piluku padamu

Atau sandaran kepalamu di bahuku kala sedihmu.

Indah...

 

Sahabat...

Kita tidak benar-benar berpisah, karena...

Semangatmu dalam penatku

Asamu dalam sesalku

Bahagiamu dalam sedihku

Tegakmu dalam jatuhku

Adamu dalam tiadaku

 

Aku dan kamu

Mengukir sebuah rindu

Untuk dikenang di masa yang jauh

Saat itu aku masih mendengar

Tegas suaramu.

Dan dalam senyumku, kulugaskan

Kau Sahabatku

Selalu...

MOONDANCE


Persembahan untuk langit yang cerah

Menyisir rasi bintang berkelip megah

Meniti jalanan yang mulai berhenti membuncah

 

Sebelum hidup berubah kabut

Menghadapi mimpi binar tersulut

Menyingsing bahagia dan kadang rasa takut

Berdiri kembali untuk kehidupan absurd

Berkabut ......

 

Persembahan untuk Tuhan

Umpatan setan dan sebuah peraduan

Menakar neraca keadilan

 

Upaya sadar terakhir

Membaca buta bahasa takdir

Pertaruhan antara iman dan kafir

Berharap tak kan tergelincir

 

Persembahan untuk bulan

Hymnekan nama-Nya dalam diam

Untuk sekisah mimpi dan kecupan

atau kematian suci dalam dekapan

 

GELORA MUDA YANG PUDAR

Di bawah langit purnama, kita berdendang nostalgia, Mengingat sumpah pemuda, ikrar yang tak lekang masa. Dulu, mereka berjuang tanpa senjata, Hanya semangat dan cinta pada negeri.

Darah tumpah, air mata bercucuran, Demi tanah air, mereka relakan segalanya. Tanpa gadget, tanpa internet yang mentereng, Mereka tetap teguh, pantang menyerah.

Kini, kita dimanjakan zaman, Segala fasilitas tersedia dengan mudah. Tapi, kemana semangat juang itu pergi? Tergantikan oleh kelalaian, yang membelenggu diri.

Dunia maya menjerat, Individu semakin terpecah belah. Kepedulian terhadap negeri, semakin memudar, Terlena dalam ego, tanpa rasa bersalah.

Wahai pemuda, bangkitlah dari tidurmu! Ingatlah jasa para pahlawan, yang telah gugur. Jangan biarkan negeri ini semakin terpuruk, Bangunlah generasi emas, yang berakhlak mulia.

Mari satukan hati dan pikiran, Untuk Indonesia yang lebih baik. Jadilah pemuda yang tangguh, kreatif, dan inovatif, Agar negeri ini jaya, sepanjang masa.

DEMIKIANLAH SAAT KAU MEMBERSAMAI TUHAN

Ada seseorang yang telah belajar menemukan kedamaian dalam setiap hal kecil yang hadir di kehidupannya. Ia tidak lagi menunggu datangnya kejutan besar atau keajaiban luar biasa untuk merasa bersyukur. Sekarang, sapaan lembut seekor lebah yang hinggap di tangannya saja sudah bisa membuatnya tersenyum. Seakan itu adalah pesan dari semesta, bahwa semua yang ada di dunia ini, seberapa pun kecilnya, adalah bagian dari kasih sayang Tuhan.

Setiap hari ia menjalani hidup dengan sederhana, dan menerima dengan hati terbuka apa pun yang Tuhan berikan. Pagi yang tenang, hembusan angin yang menyentuh pipinya, atau bahkan bunyi hujan yang mengetuk jendela menjadi pengingat bahwa hidup adalah hadiah. Bukankah Tuhan tak pernah berhenti memberi, meskipun hanya lewat sentuhan halus angin yang mengusir penat? Saat itu terjadi, ia merasa seperti dipeluk oleh alam, seolah Tuhan sedang berkata, "Aku selalu ada di sini, dalam segala bentuk yang kau temui."

Dulu, mungkin ia pernah mencari kebahagiaan dalam sesuatu yang lebih besar, mengejar mimpi-mimpi yang gemilang, berharap menemukan arti hidup dalam pencapaian besar. Namun, perjalanan itu mengajarkannya bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya atau meraih semua impian dengan sempurna. Kebahagiaan justru hadir dalam keikhlasan menerima yang sederhana—setetes embun di pagi hari, warna-warni senja, atau kehangatan cangkir teh yang diseruput perlahan.

Ia pun menyadari, ketika seseorang mampu melihat keindahan dalam hal-hal yang sederhana, saat itulah hatinya menjadi ringan. Tidak ada lagi rasa kecewa atau gelisah yang berlarut-larut, karena hidup tak lagi diukur dari apa yang bisa dicapai, melainkan dari apa yang bisa disyukuri. Segala kebahagiaan seolah lebih dekat, lebih nyata, karena Tuhan tidak pernah jauh. Ia hadir di setiap detail kecil yang sering terlewatkan.

Akhirnya, ia memahami sesuatu yang selama ini ia cari-cari: bahwa segalanya akan menjadi lebih indah dan terasa utuh ketika seseorang merasa dekat dengan Tuhan. Hidup yang tenang, hati yang lapang, dan jiwa yang selalu mampu melihat kebaikan adalah anugerah dari rasa terpaut pada-Nya. Karena, segalanya selesai saat Ia bersamamu dan kau terpaut pada-Nya. Di sanalah letak penyelesaian dan kedamaian yang sesungguhnya.

PADA LANGIT DAN PADA YANG MELANGIT


Lentera yang kau nyalakan terlalu menyilaukan hatiku, tentu saja mata ini telah lelah untuk kupejamkan, tapi tak pernah kutemui yang lain ketika kubuka lagi, tatap sinar yang dianyam dari benang pelangi oleh para malaikat penjaga surga yang tersirat di manis senyummu

Jika kau sebuah bahasa, aku belum pernah mengenalnya, hingga baris-baris tulisan ini hanya sebuah rekaan, tak lagi kujumpa petikan kata yang berasal dari setiap daun bibirmu, kecuali semua yang tak kumengerti.

Cinta telah hidupkan aku semenjak kematianku, bukan sekejap ia hangatkan jasat yang telah dingin dan kaku. hanya wajah tirus milikmu yang bangunkan jiwa dari mayatku. harus berapa kali ku tanyakan. Apa karena dekatnya kau dengan Izrail? Apa karena akan dipercepat masa perhitunganku? Apa karena kau "Bidadari Prematur" yang terlahir untukku? Apa karena memang 'Cinta' mengutusmu untuk menjadi cintaku?

Aku... sedikitpun belum berniat untuk bisikan lagu-lagu rindu itu kembali, tapi telah sigap dahulu kau tutup telingamu. Aku... ada rasa jengah untuk lewati sisa nafasku ini. dalamnya hanya berisi ruang hampa, benar-benar hampa, kecuali sisa dian dengan lelehannya mengerdilkan sumbunya, warnanya mengelabu pudar, bersama sisa api yang tersedak asapnya sendiri. Habis!!

Meski hanya bias cahaya hatimu yang terefleksi oleh serpihan pasir pada dinding sukmamu, namun serasa ia telah terbitkan matahari di tengah malam buta, menjadi benderang, segalanya nampak, semua terang, kembali menyilaukan.

 

TAK INGIN KAU PERGI KALI INI

Cukup sederhana untuk-Nya, ucapakan sakral yang sekali saja membangun segala singgasana kisra dunia atau sepatah kata pula untuk meluluhlantakannya, Dunia dan alam semesta. Menyertai titah agung yang diemban oleh kejahilan manusia. Kemuliaan yang tak pernah tertera, karena bahkan iblis mempertaruhkan setiap jiwa raga dan generasinya sebagai persembahan bagi jahannam demi menagih rasa dengkinya.
Sisa masa ini, biarkan semua berlalu hanya tentang-Mu, pandangan ini agar selalu tertuju pada-Mu, pendengaran ini lugaskan kisah-kisah-Mu saja, hati ini lekas dalam pautan hati-Mu, lalu sajak ini mewakilkan senyap suaraku, tak ingin Kau pergi kali ini.

Tepat, sejak seperempat bagian rembulan pancarkan sinarnya, seperti telah cukup dapat kita merasakan kehangatannya dingin diam kesunyian sering memasung kita, memaksakan jiwa insan hanya bernyali melawan dari balik peraduan, bersembunyi dalam, berbisik saja dengan mimpi dan kematian, Aku terhenyak tak mampu lagi membuat alasan, sebab di ragaku kehangatan bagai angin berlalu, membungkam rapat lisan ini menyisakan kenyataan bahwa Ia telah menguasaiku. Dekapan kasih yang seperti membelenggu itu, mengafaniku. Membuaiku dengan belaian seberkas kisah lalu, kejahiliyahan dan dosa mempermainkan jiwa dalam dekap kasih itu.

Desau pepohonan menyumpahi, riah aliran kecil menyerapahi, bumi seperti enggan memberikan ruang untuk jejak kakiku, lalu aku terbangun dari kejadian dan perbincangan di kepalaku, tersenyum getir sembari berkata “aku belum terlempar jauh”.

Tampaknya begitu adil, Dia menjadikan manusia sebagai pengatur, agar ia dapat berdampingan dengan dunia dan seisinya, agar meneladani keadilan yang telah diibaratkan oleh yang Maha Adil, agar mensketsa jiwa, merangkai keluarga, membina masyarakat, membangun negara dan mendamaikan alam semesta. Sementara, pepohonan, sungai-sungai, daratan, lautan, pegunungan, bintang-bintang, rembulan dan matahari menjadi penyaksinya.

Duhai Paduka, mengingat-Mu mengerdilkanku menjadi remah senyawa yang tak berdaya, menyebut-Mu menghancurkan keangkuhan manusiawiku, membayangkan-Mu membuat segera ingin bertemu kesejatianku.