REQUIEM KUNANG-KUNANG
Barangkali aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.
Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-olah mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta!
Ada banyak kisah–setidaknya yang pernah aku dengar–kenapa semua penduduk di kota ini buta. Jagat raya semula hanyalah gugusan cahaya. Cahaya yang kuning keemasan. Lalu ruh sepasang manusia pertama tercipta dari cahaya itu. Berbentuk percik cahaya. Kekuningan. Serupa kunang-kunang. Sepasang ruh yang serupa kunang-kunang itu kemudian turun ke dunia, begitu kisah leluhur, lalu berdiam di tubuh manusia, yang semula, hanyalah serupa batang-batang pohon. Tinggi menjulang, diam bagai pertapa. Ruh yang serupa kunang-kunang itu hinggap di tubuh manusia, sebagai sepasang mata, hingga manusia hidup dan bisa melihat dunia. Ketika manusia mati, ruh itu kembali terbang, menjelma kunang-kunang. Dan manusia kembali buta.
Kisah lain datang dari muasal teluk yang terletak di Utara kota ini. Teluk Duka Cita, begitu orang-orang di kota ini menyebutnya. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, mereka sekandung anak Raja Pertama, saling jatuh cinta, dan waktu, juga maut dan mampu menghentikannya. Karena tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan cinta terlarang dua saudara sekandung itu, Permaisuri, sembari terisak meminta syarat yang menurutnya muskil dipenuhi: dalam semalam mereka harus menyediakan kunang-kunang, yang bila dihamparkan dengan rapi, sanggup menutup seluruh permukaan teluk. Cinta yang buta memberi mereka akal, juga kekejaman. Dengan menggabungkan sihir yang dimilikinya, Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, memanggil semua kunang-kunang yang ada, bahkan mereka diam-diam menambahi kunang-kunang itu dengan mata para penduduk yang telah mereka congkel, dan mereka sihir menjadi kunang-kunang. Melihat itu, Raja segera menyuruh para prajurit menebah kunang-kunang yang telah berhasil dikumpulkan itu agar kembali terbang. Maka, meski telah ratusan mata dicongkel untuk menggenapi kunang-kunang agar bisa menutupi seluruh permukaan teluk, hingga pagi tiba, masih ada sebagian teluk yang tak tertutup kunang-kunang. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima mengeram marah, ketika mengetahui cara licik Raja menggagalkan cinta mereka. Di hadapan Raja dan Permaisuri, mereka langsung saling menusuk jantung masing-masing, sambil mengutuk: mereka akan mengambil semua mata seluruh penduduk dan keturunan yang hidup di kota ini, hingga siapa pun yang tak harus menanggung dosa menjadi buta. Kemudian mayat keduanya jatuh ke dalam teluk.
Tak ada muda-mudi kota ini yang berani berpacaran di teluk itu. Bila nekat, sepulang dari sana, mata mereka buta.
Kisah yang ini, barangkali, akan lebih kau percaya. Bermula dari kedatangan pasukan asing, dan perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun setelahnya. Banyak warga yang kemudian dicap pemberontak. Mereka yang dituduh mata-mata pemberontak, langsung ditangkap dan dicongkel matanya. Andai saat itu kau ada di kota ini, jangan kaget, bila seseorang yang kau jumpai pada sore hari, telah menjadi buta pada pagi harinya. Ada gereja tua, yang dianggap menjadi sarang pemberontak, dan pasukan asing itu mengepungnya. Seluruh yang ada di dalamnya diseret keluar dan dikumpulkan di pekuburan yang berada di belakang gereja. Mereka langsung dihabisi dengan serentetan tembakan. Peristiwa itu selalu diperingati dengan misa paling murung di kota ini.
Seperti diriwayatkan leluhur, ruh mereka yang mati akan kembali menjadi kunang-kunang. Bila malam hari, kau bisa menyaksikan puluhan kunang-kunang terbang berkitaran dari arah pekuburan di belakang gereja itu. Atau berjalanlah menyusuri kesunyian lorong-lorong kota ini malam hari, maka kau akan selalu berpapasan dengan kunang-kunang, yang melintas sendirian, atau bergerombol, seakan-akan mereka adalah sebuah keluarga yang sedang jalan-jalan. Jangan kaget, bila tiba-tiba pundakmu seakan ada yang menepuk, dan kau mendapati seekor kunang-kunang telah hinggap di pundakmu. Tak terlalu banyak penerangan di kota ini. Satu-satunya pembangkit listrik yang tersisa hanyalah berasal dari kincir air yang letaknya jauh di luar kota dan sudah payah tenaganya. Para pasukan asing dan penguasa telah lama melupakan kota ini, bagai hendak melupakan dosa mereka dari ingatan mereka. Kota itu terasa murung dan kelabu di siang hari. Dan tanpa penerangan listrik yang cukup, di malam hari kota ini seperti dikuasai kegelapan yang ganjil. Kegelapan yang dipenuhi kunang-kunang yang bagai muncul dari lorong-lorongnya yang paling gelap.
Atau berjalanlah kau menyisir tepian teluk, maka kau akan menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang nyaris menyentuh permukaan airnya yang bagai pulas tertidur. Ribuan kunang-kunang itu seolah ruh yang bangkit dan ingin membebaskan diri dari cengkeraman kutukan masa silam yang kelam. Kadang kau bisa mendengar suara mereka bernyanyi dengan kepedihan yang begitu memilihan. Seperti koor ruh yang purbawi.
Cahaya kunang-kunang akan membuat jalanan kota di malam hari menjadi tampak berpendaran kekuningan, seperti ada mata yang terus menyala dari balik kegelapan. Kau akan melihat kunang-kunang itu bergerombol memenuhi warung dan kafe-kafe, seakan tengah mengobrol. Kau akan menyaksikan kunang-kunang itu hinggap di tiang listrik yang mati, hingga tiang listrik itu terlihat seperti pohon yang menyala kekuningan. Ketika segerombolan kunang-kunang hinggap di serimbun perdu atau tumpukan batu, maka perdu dan batu itu seketika menyala berpendaran. Diding-dinding yang telihat kusam dan tua di siang hari, menjadi berkilauan di malam hari. Dan sebuah pohon meranggas, bisa saja seketika langsung menyala kekuning-kuningan, seakan hiasan lampu jalan atau pohon Natal.
Ada yang hidup di malam hari di kota ini, yang tak hidup di siang hari.
Sebenarnya pernah, suatu saat, kota ini mencoba hidup dan berbenah diri. Banyak pendatang yang mencari peruntungan. Tapi barangkali kota ini memang kota yang ingin dilupakan, atau dilenyapkan. Selalu saja ada hal-hal kecil yang sepertinya sengaja diciptakan untuk menjadi kerusuhan. Pembunuhan dan perkelahian. Rumah ibadah yang dibakar. Penembakan dan ledakan bom. Kota ini menjadi kota yang selalu dipenuhi permusuhan dan kerusuhan. Iman menjadi sesuatu yang menakutkan. Desas-desus tantang pasukan bertopeng yang suka menculik dan mencongkel mata siapa saja yang ditangkapnya, membuat bergidik para warga yang kemudian memilih meninggalkan kota ini. Hingga kota ini tinggal dihuni orang-orang yang sebagian besar telah buta, dan kunang-kunang.
Apalah yang layak diceritakan dari kota yang murung dan hanya didiami orang-orang buta dan kunang-kunang seperti aku ini? Aku, seperti ribuan kunang-kunang lain di kota ini, hidup dalam kesunyian cahaya. Kami seperti menanggung beban masa silam yang sampai kini tak pernah bisa kami pahami. Sebagai ruh, kunang-kunang seperti kami, hidup abadi. Tapi apalah arti keabadian bila kami hidup dalam kesunyian yang tak tertanggungkan seperti ini? Kami hidup untuk melupakan apa yang telah terjadi pada kami. Aku sendiri selalu ingin melupakan ingatan buruk itu. Ketika suatu malam, saat aku masih hidup sebagai manusia, berjalan pulang seusai pesta dansa. Di kelokan jalanan gelap, beberapa orang bertopeng menyergap dan meringkusnya. Aku tak sempat menjerit dan melawan ketika kurasakan belati tepat menikam jantungku. Pada detik terakhir aku hanya sempat merasakan kesakitan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata, tepat, saat mereka mereka mencongkel mataku. Pada detik terakhir itulah, ruhku keluar dari tubuh, dan menjelma kunang-kunang.
Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum Natal. Setelah peristiwa itu, terjadi kerusuhan dan kebakaran, yang menghanguskan nyaris sepertiga kota. Bekas yang disisakannya, berupa onggokan arang kebakaran, bila dilihat dari ketinggian, seperti luka sayatan pedang, yang mengiris wajah kota. Kesakitan yang akan lama kekal dalam ingatan.
Dan inilah kali pertama aku akan merayakan Natal sebagai kunang-kunang. Mengenang dan memikirkan apa yang telah terjadi di kota ini, aku diluapi kesedihan, yang membuatku sepertinya akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Ah, aku merasa, aku hanya terlalu dikuasai kesedihan. Mereka yang sudah lama menjadi kunang-kunang, mungkin pernah mengalami perasaan sentimentil seperti ini, tetapi akhirnya menjadi terbiasa. Perasaan sentimentil itulah, yang barangkali, membuatku ingin menceritakan semua kisah ini, kepadamu.
Pada malam Natal di kota ini, kau akan menyaksikan kunang-kunang bermunculan dari penjuru kota, yang bergerak melayang menuju gereja tua, di mana dulu pernah terjadi pembantaian. Kunang-kunang itu memenuhi gereja. Hingga gereja menjadi terang benderang berkilauan kuning keemasan. Pada fresko di belakang altar, kacanya yang buram dan sudah pecah di beberapa bagian, cahaya kunang-kunang itu menampakkan diri bagaikan aura para santa, membuat salib Kristus yang menjulang seolah diselubungi cahaya kesucian yang lembut dan meneduhkan. Sementara para jemaat, yang nyaris sebagian besar renta dan buta, para perempuan yang murung sepanjang hidupnya, mengikuti misa dengan keheningan jiwa yang membuat segala suara di sekitarnya seperti terhisap lesap. Pada saat-saat seperti itu, suara pelan daun yang melayang jatuh menyentuh rerumputan, akan terdengar jelas di telingamu.
Ubi caritas et amor, Deus ibi est
Simul ergo cum in unum congregamur
Ne nos mente dividamur, caveamus
Cessent iurgia maligna, cessent lites
Et in medio nostri sit Christus Deus….
Nyanyian itu, nyanyian itu, membuat aku tak kuasa menahan sedu. Aku membayangkan kota yang terang, teluk yang lembut dan menguarkan kesegaran yang tak terjamah musim. Kotaku, kotaku, yang sesungguhnya elok ini, kenapa engkau ditinggalkan para penduduk yang mencintamu dengan seluruh nestapa dan duka cita?
Keheningan misa mendadak pecah oleh ledakan. Para jemaat yang buta berlarian dan tersandung hingga terjerembap. Aku melihat api berkobar dari arah samping gereja. Seperti ada yang melemparkan bom molotov. Seperti ada ledakan granat atau entah apa yang tak pernah aku tahu. Mungkin seseorang telah menyelusup ke dalam gereja dan meledakkan diri. Dan api makin berkobar. Sebentar lagi, mungkin gereja ini akan terlalap api dan memusnahkan semua kunang-kunang di dalamnya.
ASMA NADIA - INSPIRASI DARI PENA PEREMPUAN
Pernikahannya dengan Isa Alamsyah menjadi tonggak penting dalam perjalanan hidupnya. Bersama suaminya, ia mendirikan Asma Nadia Publishing House dan aktif dalam berbagai kegiatan literasi serta pelatihan menulis. Asma adalah salah satu pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas penulis yang kini menjadi wadah besar bagi penulis muda di Indonesia.
Meskipun ia pernah menderita sakit serius yang membuatnya sempat dirawat intensif, semangatnya untuk menulis tidak pernah surut. Asma terus melahirkan karya-karya yang menginspirasi, seperti Assalamualaikum, Beijing! dan Cinta Laki-Laki Biasa, yang tidak hanya sukses secara komersial tetapi juga diadaptasi menjadi film layar lebar. Dengan puluhan buku yang telah terbit, Asma Nadia menjadi salah satu penulis perempuan paling produktif dan inspiratif di Indonesia, dikenal karena konsistensinya menyuarakan nilai-nilai keislaman, cinta, dan perjuangan hidup melalui tulisannya.
Catatan :
Meskipun kami menyediakan file digital (PDF, EPUB, dll), kami tidak menganjurkan pembaca untuk membaca melalui layar monitor, maupun hp, jelas itu sangat merugikan mata anda untuk jangka waktu yang lama, tujuan file-file ini hanya sebatas koleksi digital, maka bijaklah dengan membeli versi aslinya di toko-toko buku kesayangan anda.
KANG SARPIN MINTA DIKEBIRI
KANG Sarpin meninggal karena kecelakaan lalu lintas pukul enam tadi pagi. Ia sedang dalam perjalanan ke pasar naik sepeda dengan beban sekuintal beras melintang pada bagasi. Para saksi mengatakan, ketika naik dan hendak mulai mengayuh, Kang Sarpin kehilangan keseimbangan. Sepedanya oleng dan sebuah mobil barang menyambarnya dari belakang. Lelaki usia lima puluhan itu terpelanting, kemudian jatuh ke badan jalan. Kepala Kang Sarpin luka parah, dan ia tewas seketika. Satu lagi penjual beras bersepeda mati menyusul beberapa teman yang lebih dulu meninggal dengan cara sama.
Beban sekarung beras pada bagasi dan terkadang sekarung kecil lainnya pada batangan adalah risiko besar bagi setiap penjual beras bersepeda. Tetapi mereka tak jera. Setiap hari mereka membeli padi dari petani, kemudian mengolahnya di kilang lalu menjual berasnya ke pasar. Mereka tak peduli sekian teman telah meninggal menjadi bea jalan raya yang kian sibuk dan kian sering minta tumbal nyawa.
Berita tentang kematian itu sampai kepada saya lewat Dalban, ipar Kang Sarpin sendiri. Ketika menyampaikan kabar itu Dalban tampak biasa saja. Wajahnya tetap jernih. Kata-katanya ringan. Mulutnya malah cengar-cengir. Entahlah, kematian Kang Sarpin tampaknya tidak menjadi kabar duka. Dirumah Kang Sarpin saya telah melihat banyak orang berkumpul. Jenazah sudah terbungkus kafan dan terbujur dalam keranda. Tetapi tak terasa suasana duka cita. Wajah para pelayat cair-cair saja. Mereka duduk santai dan bercakap sambil merokok seperti dalam kondangan atau kenduri. Ada juga yang bergurau dan tertawa. Asap mengambang di mana-mana melayang seperti kabut pagi. Ah, saya harus bilang apa. Di rumah Kang Sarpin pagi itu memang tak ada duka cita atau bela sungkawa.
Kalaulah ada seorang bemata sembab karena habis menangis, dialah istri Kang Sarpin. Tampaknya istri Kang Sarpin berduka seorang diri. Setelah menaruh uang takziyah di kotak amal saya mencari kursi yang masih kosong. Sial. Satu-satunya kursi yang tersisa berada tepat di sebelah Dalban. Ipar Kang Sarpin masih ngoceh tentang si mati. Dan saya tak mengerti mengapa omongan si Dalban seperti menyihir para pelayat. Orang-orang tampak tekun menikmati cerita tentang almarhum dari mulut nyinyir itu.
“Ya, wong gemblung itu sudah meninggal,” kata Dalban dengan enak. Wajahnya tampak tanpa beban.
“Bagaimana aku tak menyebut iparku wong gemblung. Coba dengar. Suatu ketika di kilang padi, orang-orang menantang Sarpin: bila benar jantan maka dengan upah lima ribu rupiah dia harus berani membuka celana di depan orang banyak. Mau tahu tanggapan Sarpin? Tanpa pikir panjang Sarpin menerima tantangan itu. Ia menelanjangi dirinya bulat-bulat di depan para penantang. Lalu enak saja, dengan kelamin berayun-ayun, dia berjalan berkeliling sambil meminta upah yang dijanjikan.” Cerita Dalban terputus oleh gelak tawa orang-orang. Dan Dalban makin bersemangat.
“Ya, orang-orang hanya nyengir dan mengaku kalah. Malu dan sebal. Sialnya mereka harus mengumpulkan uang lima ribu. Tetapi Yu Cablek, penjual pecel di kilang padi yang melihat kegilaan Sarpan berlari sambil berteriak, ‘Sarpin gemblung, dasar wong gemblong!’’’
Orang-orang tertawa lagi. Dan jenazah Kang Sarpin terbujur diam dalam keranda hanya beberapa langkah dari mereka. Saya mengerutkan alis. Ah, sebenarnya orang sekampung, lelaki dan perempuan, sudah tahu siapa dan bagaimana Kang Sarpin. Dia memang lain. Dia tidak hanya mau menelanjangi diri di depan orang banyak. Ada lagi tabiatnya yang sering membuat orang sekampung mengerutkan alis karena tak habis pikir. Kang Sarpin sangat doyan main perempuan dan tabiat itu tidak ditutupi-tutupinya. Dia dengan mudah mengaku sudah meniduri sekian puluh
perempuan. “Saya selalu tidak tahan bila hasrat birahi tiba-tiba bergolak,” kata Kang Sarpin suatu saat.
“Tetapi Kang Sarpin masih ada baiknya juga,” cerita Dalban lagi. “Meski gemblung dia berpantangan meniduri perempuan bersuami. Kalau soal janda sih, jangan ditanya; yang tua pun dia mau. Dan hebatnya lagi dia juga tak pernah melupakan jatah bagi istrinya, jatah lahir maupun batin.”
DALBAN terus ngoceh dan orangorang tetap setia mendengar dan menikmati ceritanya. Saya juga ikut mengangguk-angguk. Tetapi saya juga merenung. Sebab tadi malam, kira-kira sepuluh jam sebelum kematiannya Kang Sarpin muncul di rumah saya. Di bawah lampu yang tak begitu terang wajahnya kelihatan berat. Ketika saya tanya maksud kedatangannya, Kang Sarpin tak segera membuka mulut. Pertanyaan saya malah membuatnya gelisah. Namun lama kelamaan mulutnya terbuka juga. Ketika mulai berbicara ucapannya terdengar kurang jelas. “Mas, saya sering bingung. Sebaiknya saya harus bagaimana?”
“Maksud Kang Sarpin?”
“Ah, Mas kan tahu saya orang begini, orang jelek. Wong gemblung. Doyan perempuan. Saya mengerti, sebenarnya semua orang tak suka kepada saya. Sudah lama saya merasa orang sekampung akan lebih senang bila saya tidak ada. Saya adalah aib di kampung ini.”
“Kang, semua orang sudah tahu siapa kamu,” kata saya sambil tertawa. “Dan ternyata tak seorang pun mengusikmu. Lalu mengapa kamu pusing?” “Tetapi saya merasa menjadi kelilip orang sekampung. Ah, masa iya, saya akan terus begini. Saya ingin berhenti menjadi aib kampung ini. Lagi pula sebentar lagi saya punya cucu. Saya sudah malu jadi wong gemblung. Saya sudah ingin jadi wong bener, orang baik-baik. Tetapi bagaimana?”
“Yang begitu kok Tanya saya? Mau jadi orang baikbaik, semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kan? Kalau mau baik, jadilah baik. Kalau mau tetap gemblung, ya terserah.”
“Tidak! Saya ingin berhenti gemblung. Sialnya, kok ternyata tidak mudah. Betul. Mengubah tabiat ternyata tidak mudah. Dan inilah persoalannya mengapa saya datang ke mari.”
Saya pandangi wajah Kang Sarpin. Matanya menyorotkan keinginan yang sangat serius. Anehnya, saya gagal menahan senyum.
“Bila Kang Sarpin bersungguh-sungguh ingin jadi wong bener, kenapa tidak bisa? Seperti saya bilang tadi, masalahnya tergantung kamu, bukan?”
“Sulit Mas,” potong Sarpin dengan mata berkilat-kilat. “Saya sungguh tak bisa!”
“Kok? Tidak bisa atau tak mau?”
“Tak bisa.” Kang Sarpin menunduk dengan menggeleng sedih. “Lho, kenapa?”
“Ah, Mas tidak tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Burung saya lho, Mas! Burung saya; betapapun saya ingin berhenti main perempuan, dia tidak bisa diatur. Dia amat bandel. Bila sedang punya mau, burung sama sekali tak bisa dicegah. Pokoknya dia harus dituruti, tak kapan, tak di mana. Sungguh Mas, burung saya sangat keras kepala sehingga saya selalu dibuatnya jengkel. Dan bila sudah demikian saya tak bisa berbuat lain kecuali menuruti apa maunya.
“Sekarang, Mas, saya datang kemari untuk minta bantuan. Tolong. Saya suka rela diapakan saja asal saya bisa jadi wong bener. Saya benar-benar ingin berhenti jadi wong gemblung.”
Terasa pandangan Kang Sarpin menusuk mata saya. Saya tahu dia sungguh-sungguh menunggu jawaban. Sialnya, lagi-lagi saya gagal menahan senyum. Kang Sarpin tersinggung.
“Mas, mungkin saya harus dikebiri.”
Saya terkejut. Dan Kang Sarpin bicara dengan mata terus menatap saya.
“Ya. Saya rasa satu-satunya cara untuk menghentikan kegemblungan saya adalah kebiri. Ah, burung saya yang kurang ajar itu memang harus dikebiri. Sekarang Mas, tolong kasih tahu dokter mana yang kiranya mau mengebiri saya. Saya tidak main-main. Betul Mas, saya tidak main-main!” Tatapan Kang Sarpin makin terasa menusuk-nusuk mata saya. Wajahnya keras. Dan saya hanya bisa menarik napas panjang.
“Entah di tempat lain Kang, tetapi di sini saya belum pernah ada orang dikebiri. Keinginanmu sangat ganjil, Kang.”
“Bila tak ada dokter mau mengebiri, saya akan pergi kepada orang lain. Saya tahu di kampung sebelah ada penyabung yang pandai mengebiri ayam aduannya. Saya kira, sebaiknya saya pergi ke sana. Bila penyabung itu bisa mengebiri ayam, maka dia pun harus bisa mengebiri saya. Ya. Besuk, sehabis menjual beras ke pasar ….”
“Jangan Kang,” potong saya. Tatapan Kang Sarpin kembali menusuk mata saya. “Kamu jangan pergi ke tukang sabung ayam. Dokter memang tidak mau mengebiri kamu. Tetapi saya kira dia punya cara lain untuk menolong kamu. Besuk Kang, kamu saya temani pergi ke dokter.”
Wajah Kang Sarpin perlahan mengendur. Pundaknya turun dan napasnya lepas seperti orang baru menurunkan beban berat. Setelah menyalakan rokok Kang Sarpin menyandarkan ke belakang. Tak lama kemudian, setelah minta pengukuhan janji saya untuk mengantarnya ke dokter, Kang Sarpin minta diri. Saya mengantarnya sampai ke pintu. Ketika saya berbalik tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala; apakah Kang Sarpin adalah lelaki yang disebut cucuk senthe? Di kampung ini cucuk senthe adalah sebutan bagi lelaki dengan dorongan birahi meledak-ledak dan liar sehingga yang bersangkutan pun tak bisa mengendalikan diri. Entahlah.
SAYA tersadar ketika semua orang bangkit dari tempat duduk masing-masing. Rupanya Modin yang akan memimpin upacara pelepasan jenazah sudah datang. Bahkan keranda sudah diusung oleh empat lelaki yang berdiri di tengah halaman. Kini suasana hening. Dalban yang sejak pagi terus ngoceh, juga diam.
Modin mengawali acara dengan memintakan maaf bagi almarhum kepada semua yang hadir. Modin juga menganjurkan kepada siapa saja yang punya utang piutang dengan Kang Sarpin untuk segera menyelesaikannya dengan para ahli waris. Sebelum doa dibacakan, modin tidak melupakan tradisi kampung kami; meminta semua orang memberi kesaksian tentang jenazah yang hendak dikubur.
“Saudara-saudara, saya meminta kalian bersaksi apakah yang hendak kita kubur ini jenazah orang baik-baik?”
Hening. Orang-orang saling berpandangan dengan sudut mata. Saya melihat Dalban menyikut lelaki di sebelah. “Bagaimana? Sarpin itu tukang main perempuan. Apa harus kita katakan dia orang baik-baik?”
Masih hening. Saya merasa semua orang menanggung beban rasa pakewuh, serba salah. Maka Modin mengulang pertanyaannya, apakah yang hendak dimakamkan adalah jenazah orang baik-baik. Sepi. Anehnya tiba-tiba saya merasa mulut saya bergerak.
“Baik!”
Suara saya yang keluar serta merta bergema dalam kelengangan. Saya melihat semua orang juga Modin, tertegun lalu menatap saya. Entahlah, saat itu saya bisa menyambut tatapan mereka dengan senyum.
Keranda bergerak bersama langkah empat lelaki yang memikulnya. Bersama orang banyak yang berjalan sambil bergurau, saya ikut mengantar Kang Sarpin ke kuburan. Saya tak menyesal dengan persaksian saya. Di mata saya seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita jadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.
MENJAGA PERUT
Aku mendekat, kurapikan kakinya hati-hati. Aku tersenyum lega merasa kehangatan mengalir di sana.
Di luar, hari berlayar menuju petang seperti usia. Bayang pohon memanjang di halaman berlawanan dengan bayang pagi. Suara-suara pembantu senyap di belakang. Telepon bisu di sudut ruang. Di jalan agak jauh di depan rumah kendaraan lalu-lalang, bunyinya menyusup masuk usai berenang meniti daun dan bunga-bunga di halaman. Dibawanya juga harum kenanga ke dalam ruangan.
Kuamati wajah Laila sekali lagi, balik ke kursi, menonton tivi. Tidak ada yang patut. Pisah-cerai artis. Heboh, aneh, bagai pasangan hidup hanya mainan. Atau baju, sepatu, dapat kau ganti kapan mau. Tapi aku terus menonton. Siapa tahu Man ada lagi di tivi. Atau telepon berbunyi. Lalu Armin, Arni, berkabar mengenai abang mereka.
Di saluran lain film kartun, masak-memasak. Ah. Masakan Laila tentu mampu bersaing kalau tak lebih sedap. Tiga puluh delapan tahun seleraku dimanja, asam urat kolesterol pun tak singgah. Cuma umur, terus menjulur; meretas garis dekat ke batas.
”Oh, hebat ini! Sedap. Luar biasa!” Semua teman pun memuji tiap kali kujamu makan di rumah, dulu, sebelum pensiun–dan jumlah sahabat juga masih lengkap.
Macam mana tak hebat luar biasa. Dari kecil Laila suka dan terlatih memasak. Bakatnya turun dari nenek serta ibunya, dia asah tiap hari. ”Pokoknya, masakan Laila itu hm!” puji kakak-kakak perempuan ketika aku disuruh pulang dengan alasan ibu sakit, tahunya mau dijodohkan. Umurku 30 waktu itu. Keluarga cemas aku tidak dapat jodoh di rantau orang, bujang lapuk seumur hidup bak kayu dilahap rayap.
Kepalang basah, kutantang mereka, para kakak. ”Hm, itu apa?”
”Macam mana kau ini. Variatif, inovatif, sedap!”
”Dibanding rumah makan Famili Andalas?”
”Jangan mencemooh kau. Ibu saja takjub, amat berharap Laila jadi menantu.”
Ayah ikut-ikutan. Saat kami berdua, diajaknya aku bicara, istilah dia, ”obrolan antarlelaki”. Bahwa cinta seorang lelaki diawali dari tengah, dari perut, naik ke dada, baru turun ke bawah. Tak sebaliknya: dari dada atau hati dulu macam anak baru baliq. Apalagi dari bagian tubuh bawah.
”Mengapa begitu?” tanyaku.
”Karena perut itu pusat, keseimbangan. Penyakit asalnya dari perut. Pun nafsu, keserakahan. Karena itu, perut harus kita jaga dengan makanan sehat sekaligus sedap. Karena itu lelaki memerlukan perempuan yang campin memasak, cerdas, baik, selain cantik. Ya, seperti ibumu. Juga, Laila.”
”Memang kalau dari atas dulu, dari hati macam anak baru baliq, kenapa?”
“Cinta kau mudah guyah,” ujar ayah. ”Dada itu emosi, perasaan. Dan perasaan rentan terhadap cuaca, mudah berubah.”
”Kalau dari bawah dulu?”
Tiba-tiba ayah melotot. ”Dungunya!” dia bilang. ”Dari tadi aku kias-kias tidak paham. Bejat, tahu. Juga tolol. Kau bakalan terjebak menolak kodrat sebagai manusia, mendekat ke hewan. Kau akan terus mencari, tak puas-puas, bak minum air laut!”
”Oh. Eh, pernah Ayah minum air laut? Maksudku, waktu muda.”
”Mana sudi aku!” Ayah kembali membelalak. ”Kau? Mau? Sudah?”
”Ah, aku tak tahan lelah, Yah,” kubilang.
Muka ayah cerah. ”Makanya, lekas kau belajar kenal dengan Laila!” katanya. Kemudian aku tahu, memang dia paling bersemangat menjodohkan aku dengan Laila.
LAILA bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dia lihat aku sejenak, lalu beralih melihat tivi. ”Ada lagi?” tanyanya. Suaranya lirih seperti bisik. Matanya redup, hatiku teriris.
”Tidak.” Ya, tambahku tanpa suara. Cukup sekali anak kami, Man, terlihat di tivi diapit pengacara, aparat kepolisian. Jangan lagi tampak, terlebih oleh Laila. Anak, setelah dewasa, beranak pula, memang tidak lagi di bawah-asuh orangtua. Tapi, siapa dapat memupus hubungan anak-orangtua? Siapa mampu mengelak dari derita anak?
”Arman dan Arni?”
”Mereka juga tidak menelepon. Pindah ke kamar, ya. Mereka tak telepon tentu karena tidak ada yang perlu dikabarkan.”
Aku masih ingin di sini.”
”Kalau begitu tidurlah kembali. Dokter menyuruhmu istirahat. Tuhan juga.”
Ia menyenyumiku. Manis-lembut tetap senyum yang dulu. ”Abang tahu Tuhan menyuruhku istirahat,” dia bilang. Matanya berbinar, mengerdipkan harapan.
”Tentu.” Kutinggalkan kursi, aku dekati dia. ”Ia suruh kita lebih dulu menjaga diri, sebelum orang lain. Dia larang kita mencelakai diri.”
Tapi Man bukan orang lain, Abang.”
”Anak kita. Tapi bukan diri kita. Tidurlah.”
Laila menarik napas, telentang lagi. Matanya perlahan terkatup. Bulu matanya lentik dilindung alis lengkung halus. Kulitnya putih, bersih. Tubuhnya masih ramping. Aku kecup keningnya dengan sayang. Serasa baru kemarin kami menjadi pengantin.
Tak lima menit, matanya terbuka pula. ”Aku ingat ayah Abang,” dia bilang.
”Ya, ya. Aku mengerti. Tidurlah kembali. Istirahat.”
Dia sangat percaya aku bisa menjaga perut Abang. Dan, tak sedebu pun yang bukan hak Abang bawa pulang dulu, waktu masih aktif.”
”Ya. Tentu. Lina, istri Man, juga campin memasak sepertimu.”
Tapi, mungkinkah dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya?”
”Kau pun sibuk dulu, mengajar. Kalaupun sibuk tentu dia pesan pembantu apa yang mesti dimasak. Dia ajari mereka memasak, agar yang disantap tidak hanya sedap tetapi juga sehat.”
”Kalau begitu, kenapa Man.”
”Tidur sajalah kembali. Istirahatlah,” kubilang.
”Mataku tak bisa pejam, Abang. Pikiranku tak dapat lelap.”
”Tetapi tubuhmu membutuhkan. Jantungmu. Dokter menyuruhmu istirahat.”
”Ya, Tuhan juga.” Ia senyum. ”Tapi, menurut Abang, apakah Man tidak selalu makan di rumah?”
”Aku pun sesekali makan di lepau dulu. Kau tahu itu. Di kota macam Jakarta, tak mungkin orang makan siang di rumah lalu kembali ke kantor. Kota itu bukan lagi Jakarta tempo dulu, waktu kita tinggal di situ.”
Laila menarik napas pula. Lapat-lapat kudengar suara kendaraan menyusup ke dalam ruang, usai berenang meniti daun dan bunga di halaman. Dia bawa serta harum kenanga yang tumbuh di pekarangan. Dan, hari terus berlayar dekat ke petang; seperti umur, bagai usia. Siapa lebih dulu yang akan tiba di senja, lalu malam, di antara kami berdua?
Aku bangkit dari kursi, mendekati Laila. ”Tidurlah kembali. Istirahat,” kataku membujuk. ”Atau, kusuruh Sinah bikin teh? Hangat-hangat. Mau?”
”Aku hanya ingin dekat Abang. Anak-anak, menantu, dan juga cucu.”
”Aku di dekatmu. Aku selalu bersamamu. Jika sembuh nanti, pekan depan kita tengok mereka ke Jakarta.”
”Mereka dulu anak-anak yang manis. Man, Armin, Arni. Man elok laku, sadar benar jadi sulung. Selalu dia mengalah dan bertanggung jawab kepada adik-adiknya.”
”Dia belum tentu bersalah,” kataku. ”Baru dipanggil. Diperiksa polisi, sebagai saksi. Bukan terdakwa.”
Mata Laila berbinar lagi, mengerdipkan harapan. Dia juga senyum kepadaku. Lembut-manis tetap seperti dulu. ”Abang tahu,” dia bilang, memegang tanganku. ”Itu yang membuatku dulu tidak ragu menerima Abang waktu kita dijodohkan. Ketegaran, dan kesabaran Abang.”
”Bagiku kecantikan dan ke-campin-anmu memasak. Tidurlah sekarang, kau perlu istirahat.”
Perlahan, matanya pejam kembali. Satu, dua, lima, sepuluh menit berlalu.
LAILA masih tidur di sofa ruang tengah. Angin tak sampai. Hanya lapat-lapat suara kendaraan, agak jauh di depan, di jalan. Juga harum kenanga. Dan hari tak henti berenang dalam petang. Aku masih duduk di kursi mengamati Laila, sesekali melihat ke tivi. Alangkah lengang petang. Betapa sunyi siang di ujung hari.
Aku dengar suara galau, kudengar bisik-bisik mengimbau. Adakah anak-anak, terutama Man, tahu, bahwa ayahnya, lelaki tua ini tak sesabar dan setegar yang dilihat ibunya? Adakah dia tahu ada yang remuk di dalam, justru di penghujung usia?
Apa kitanya yang kerap ia santap di luar rumah, lalu menjelma nafsu serakah, mengalir dalam darah? Mengapa tak ia jaga lambungnya, perutnya, seperti ayah, juga kakeknya? Seberapa banyak, seberapa lama, seberapa parah gerangan yang ia lahap di luar, sampai-sampai yang berasal dari masakan ibunya di masa kecil, atau dari istrinya kini, seolah tidak berbekas?
Tak lama lagi, seiring tiba senja, stasiun-stasiun tivi akan berlomba menyiarkan berita. Umumnya mengenai korupsi. Apakah anak itu, Man, bakal muncul lagi di sana; seperti kemarin, dan jantung ibunya bermasalah, ayahnya remuk di dalam–debarnya serasa menghancur tulang?
Aku alihkan mata dari tivi, menengok ke arah Laila. Dia masih tidur di sofa, di ruang tengah, tak bergerak. Napasnya halus, lunak. Dadanya bak tak beriak. Mukanya bersih, putih. Atau, pucat? Tidak, tidak. Kulit Laila memang putih, bersih, dan di saat tidur mukanya tampak semakin putih. Namun aku mendekat juga. Kuraba keningnya, lalu merasa lega karena kehangatan mengalir di sana.
Di luar, hari terus berenang menyelesaikan petang. Seperti umur, serupa usia; tidak henti menarik garis menuju batas. Tivi memainkan gambar-gambar. Tik-tok jam di dinding. Sesaat lagi berita-berita. Dadaku kian berdebar. Aku tengok berganti-ganti dari Laila ke tivi, dari tivi ke Laila.
Lalu telepon berdering. Seolah rangkaian gelas-piring dibanting. Aku bangkit, bergegas. Bergegas!
”Halo? Bapak?”
”Ya. Arni? Ya, ini Bapak. Ada apa?”
Tak ada lagi kata. Hanya sedu tertahan. Di sana, di ibu kota negara, di Jakarta. Dan dari pojok ruang kulihat Laila tidur di sofa, tak bergerak. Dadanya bak tak beriak. Mukanya putih-bersih. Atau pucat? Tidak, tidak. Kulit Laila memang bersih-putih dan saat tidur mukanya terlihat makin putih. Tapi aku ingin meraba keningnya, memegang tangannya, menyentuh jarinya. Aku ingin merasa kehangatan tetap mengalir di sana.
MALAM DI KOTA MERAH
Malam. Malam yang dingin. Angin seperti menghunus pisau dan mengiris setiap inci kulit waktu. Pisau berkilat di mataku. Pisau yang sesungguhnya terarah dengan tepat di antara dua kening.
Cepatlah, sebelum tangan ini lepas dari kendaliku! Teriak lelaki itu dalam getaran yang hebat. Aku tak tahu apakah ia marah atau gentar. Suara keras, namun runtuh sebagai kemurungan. Aku mengambil dompet dan kuserahkan dengan gemetar pula. Ini masalah nyawa, Bung. Satu-satunya. Bukan kematian yang kutakutkan, namun janjiku untuk menemui seseorang tengah malam ini, membuatku tak mungkin mengambil resiko untuk mencumbui ketajaman pisau dan liar kegelisahan di sepasang mata yang nampak mulai berair itu. Ia menangis. Sungguh. Tangisan apa pula yang mengalir deras dari seorang perampok.
Pergilah! Pergilah! Ambil semua yang kau inginkan. Aku membatin sendiri. Bagaimana bisa seorang bajingan menyerah kepada seorang perampok gelisah macam itu. Kau sakit! Cepatlah cari obat yang mujarab. Pergilah ke tempat pelacuran. Atau belilah minuman keras. Mabuklah sampai memar sepasang mata yang rapuh itu. Aku terus mencacinya dalam hati. Ia tak juga beranjak. Pisau itu terus terarah. Tajam, berkilat, dan penuh getaran. Sebelah tangannya menangkap dompet dan membukanya dengan tergesa. Hampir jatuh. Ia terkejut dengan kebodohannya sendiri. Dan akibatnya pisau itu menekan keras keningku. Ada yang mengalir. Ngalir di celah antara dua mataku.
Darah! Teriaknya tergagap. Kau! Kau berdarah! Pisau itu bukannya melemah, malah semakin kuat menusuk. Ngilu merasuk. Perih terbit. Ia mendadak marah dan gila. Barangkali darah itu telah menyulut sesuatu di tubuh orang itu. Barangkali rasa takut.
Perampok sialan. Gerutuku sambil menahan sakit. Tubuhku semakin rapat ke tembok yang lembab. Dan tubuhnya hendak merapat pula ke tubuhku. Tubuhku terlalu kecil untuk berontak terhadap manusia tinggi kekar ini. Jika saja. Tidak. Tak ada berandai-andai. Sekali kubuat kesalahan. Pisau itu akan membabi-buta. Pisau itu berada dalam kendali orang yang tak punya kendali. Getaran hebat di tangan dan tubuhnya bisa saja membuat pisau itu terjatuh, bisa juga membuatnya menjelma seribu sayatan indah di kulit, daging, dan tulangku. Aku punya janji. Tak bisa aku bermain-main. Ah, padahal kematian adalah sesuatu yang sering kupermainkan.
Cepat selesaikan permainan ini! Aku menahan geram. Tak sulit buatnya untuk melepasku, semudah ia membunuhku. Namun ia tak melakukan keduanya. Malah bersusah-payah menahan getaran hebat itu. Pisau semakin tak menentu. Seperti dalam perang. Antara menikam dan melompat pulang. Ini tentunya sangat menyiksaku. Harapanku nyaris tak bersisa.
Tuhan. Aku ingin menemui tidak setelah kematian. Tengah malam ini. Dalam kehidupan. Aku berbisik gigil pada getaran pisau itu, pada galau tusukannya. Enyahlah! Enyahkanlah perampok gila ini. Jangan biarkan ia jadi pembunuh dan merasa berdosa seumur hidup. Selamatkan ia untukku. Untukku! Percuma aku meracau. Tiba-tiba tusukan itu semakin menekan. Dan kurasakan, sedikit-sedikit, menembus tulang keningku. Menancap rapat. Segera ia mengerang sedemikian rupa. Mengaduh gaduh sekali. Seperti orang yang mengalami puncak orgasme. Tangannya lepas dari pisau. Tubuhnya menggeliat. Mengejang. Lantas terjengkang seketika. Suara berdebum. Tubuhnya kini kaku. Membujur di depan jari-jariku yang mengkerut surut seperti hendak sembunyi ke dalam telapak kaki yang telanjang. Aku seperti terbius dengan pemandangan menakjubkan itu. Tanganku perlahan meraba pisau yang menancap kuat di kening. Darah seperti sungai mungil yang mengalir menuruni celah antara dua mata, mengalir ke hidung. Pecah jadi beberapa sungai yang lebih mungil. Dan bermuara di bibirku. Mulutku mencicipinya tak henti-henti.
Aku tak terlalu mempersoalkan perampok sialan yang mampus dengan khusyuk, toh ia mati ataupun tidak kuanggap sebagai jawaban atas doaku. Pisau di keningku menjelma persoalan baru. Selepas gang ini adalah jalan yang sangat ramai sekalipun malam semakin larut. Malah, semakin larut semakin hidup. Orang-orang di sini hanya hidup dan bergembira pada malam hari. Seperti perkampungan vampir. Kau dapat mencari apa saja yang kau inginkan sepanjang malam. Pasar. Toko-toko. Tempat-tempat hiburan. Bahkan sekolah pun buka malam hari. Orang-orang tak terlalu pedulian terhadap yang lainnya, namun mereka sangat senang mengolok-olok. Mengolok-olok segala sesuatu yang tak lazim. Segala sesuatu yang lain dari kebiasaan. Bagaimana aku pulang dengan pisau menancap di kening. Tak kuasa aku mencabutnya. Tenagaku tak sanggup melepasnya dari impitan tulang yang retak itu. Lepas aku dari satu rintangan. Namun rintangan itu mewariskan sesuatu yang tak bisa kulenyapkan. Bukan rasa nyeri atau perih yang kini menjalar. Bukan sungai mungil darah yang terus kureguk. Aku berjalan sepanjang gang yang temaram. Sedikit sempoyongan. Dengan kedua tangan memegang hulu pisau, seperti memegang botol minuman keras, yang menancap di kening.
Malam semakin dingin di tubuhku. Gigil. Angin kini seperti silet. Tipis. Semakin dekat ke mulut gang, udara mendadak mulai menghangat.
Keluar dari mulut gang, nampak lampion-lampion merah bertebaran di mana-mana. Lampu-lampu berwarna berkibaran. Kain-kain berwarna merah berjatuhan dari tempat yang tinggi. Orang-orang ramai sekali. Dari mulai anak kecil sampai orang tua tumpah ruah di jalanan. Aku mencari-cari sesuatu yang dapat menutupi kening dan kepalaku, dan wajahku tentunya. Tapi tak ada apa-apa. Kota ini sangat bersih. Maka aku berjalan dengan meminggirkan diri dari keramaian. Mencari jalur paling sunyi, yang tentu saja sangat sulit dicari di kota ini. Anak-anak berlarian di depan sebuah sekolah. Seperti sungai mungil darah yang terus mengalir di wajahku, terus bermuara di bibirku. Anak-anak muda nampak bergerombol di depan sebuah panggung musik, di meja-meja kafe yang dipasang di trotoar. Sedang orangtua hilir-mudik di pasar, toko-toko, dan taman kota.
Lampu-lampu yang merah, adalah napas yang menghidupkan kota ini. Segala macam merah, dari yang paling muda sampai yang paling pekat. Ada juga yang sewarna sungai darah. Aku menyisir yang paling pinggir. Mencari jalur sepi yang paling mustahil. Seluruh perih dan kemungkinan untuk diolok-olok bukanlah alasan yang membuatku sembunyi-sembunyi. Kebiasaan penghuni kotalah yang membuatku harus sangat berhati-hati. Pisau itu akan menjadi masalah yang harus dipertanggungjawabkan. Di kota ini benda-benda tajam adalah benda yang diharamkan. Hanya orang-orang tertentu yang boleh menggunakannya. Apalagi jika mereka menganggap aku mau bunuh diri. Akan lebih gawat lagi. Aku akan disekap dalam penjara paling gelap, paling dalam, dan paling lembab.
Kota semakin memerah. Hampir tengah malam. Jam raksasa di atas taman sebentar lagi bernyanyi. Dan orang-orang akan segera menari bersama. Kesempatan yang paling baik. Pisau terkutuk ini tidak akan terlalu memancing perhatian. Aku berhenti sebentar di tempat yang paling temaram. Menatap perempatan yang mewah dengan warna merah. Rumahnya terdapat di sana. Kecil. Terselip di antara bangunan-bangunan tinggi. Sebenarnya rumahnya bertebaran di mana-mana. Sangat banyak. Hampir di setiap wilayah. Aku sering membayangkan bahwa dalam setiap inci nadiku pun terdapat rumahnya. Rumahnya yang kecil di perempatan itu adalah yang terdekat, rumah-rumahnya dalam nadiku belum dapat kumasuki. Ah, bagaimana aku memasuki diriku sendiri. Belum kulangkahkan lagi kakiku, seseorang menubruk punggungku. Aku terjatuh dengan cepat dan kuat. Akibatnya pisau itu makin dalam menancap di keningku. Ngilu tumbuh seperti bangunan-bangunan yang terus meninggikan lantai-lantainya. Seorang perempuan muda berulang kali meminta maaf dan hendak membantuku berdiri. Aku terus saja menelungkup, dan ia begitu keras kepala untuk meminta maaf.
Oh! Anda berdarah! Darah! Aku sungguh berdosa! Toloooong! Tolooooong! Perempuan muda dan cantik, ketika kulirik sekali saja kecantikan itu tertanam langsung di mataku, kini berteriak dan semanggil semua orang. Mampuslah aku. Ancaman kematian kembali datang. Pisau ini, pisau yang sekarang setengahnya tertanam di keningku, seperti malapetaka yang tak pernah habis. Orang-orang cepat sekali berkerumun. Tak ada tempat berlari selain pura-pura mati.
Tolonglah cepat. Ada darah di wajahnya. Cepatlah, lelaki ini mempunyai pisau di kepalanya! Lagi-lagi suara perempuan itu meletup-letup penuh ketakutan. Ia akan segera dicap pembunuh. Seseorang membalikkan tubuhku. Dan kudengar suara orang-orang bergemuruh.
Pisau itu tak dapat dilepas. Darah itu tak dapat dihentikan. Ia masih hidup. Seseorang berteriak, setelah kurasakan ada yang mencoba menggerakkan pisau keparat itu.
Seseorang telah menusuknya! Teriak yang lain.
Bukan! Bukan! Pisau itu tumbuh sendiri di keningnya! Aku pernah mendengar ramalan tentang akan datang seseorang dengan pisau di kening. Suara yang lain lagi menyeruak, membuat semuanya terdiam dan senyap. Suara-bisik-bisik.
Itu hanya dongeng! Bantahan datang dari belakang kepalaku.
Tidak. Itu ramalan. Seseorang dengan pisau di kening akan menemui kekasihnya di Kota Merah. Dan pisau itu akan lenyap ke dalam kepalanya jika ia benar-benar menemui kekasihnya. Tak ada yang dapat mencabutnya selain ciuman seorang kekasih.
Cerita yang ajaib sekali, seperti hipnotis. Semua orang mundur perlahan. Semuanya mundur meninggalkanku seorang diri. Sepertinya cerita itu membangkitkan ketakutan terdalam yang mereka miliki. Semuanya sekejap saja sudah berlarian. Dan lampu-lampu merah semakin banyak dan semarak. Perempuan muda yang menubrukku ternyata masih memandangku dari sebuah jendela toko makanan.
Tak baik kau menatap seorang bajingan dengan tatapan yang paling lembut. Kau tak membunuhku, malah menolongku terjerumus dalam cerita yang tak masuk akal. Rintihku tersiksa oleh sorot matanya, oleh kerinduan untuk menemuinya kembali kelak. Kelak dalam kehidupan bukan setelah kematian.
Janji ini akan segera kutepati. Kakiku kini tak lagi menyusuri jalur sunyi yang mustahil. Aku berlari menembus keramaian. Tak ada lagi yang kusembunyikan. Pisau yang menancap indah. Indah di keningku. Sungai mungil darah yang bermuara di bibirku. Tak ada yang kusembunyikan toh aku adalah seseorang yang ada dalam ramalan. Aku adalah legenda bagi kota ini. Aku teringat perampok sialan yang mewariskan pisau ini, o, ia bisa saja seseorang yang dikirim Tuhan untuk menuntunku pada sebuah janji. Segalanya seperti berada di luar rotasi kebiasaan. Kejadian-kejadian seperti melompat dari topi seorang penyihir. Tapi lebih penting bagiku adalah menepati janji.
Rumahnya telah terlihat. Aku berlari dengan diiringi penghuni kota. Langkahku menjadi langkah mereka. Sampai di rumahnya. Dadaku begitu berdebar. Sepi sekali. Lampu temaram bahkan hampir padam. Pintunya terkunci. Jendela-jendelanya rapat. Rumah yang tak lagi dipakai. Hanya sebuah bangunan telantar. Aku sedikit nanar. Bagaimana bisa rumahnya seperti begini. Aku berlari lagi mengitari kota. Mencari rumahnya yang lain. Hampir sama. Tak ada rumahnya yang terbuka dan benderang. Semuanya seperti rumah hantu bahkan sebagian menjelma puing dan reruntuhan. Aku hampir putus asa. Hampir tengah malam. Sebentar lagi jam bernyanyi dan orang-orang menari.
Tuhan, Aku ingin menepati janji, menemuimu dalam kehidupan bukan setelah kematian. Aku menjerit-jerit seperti anak kecil. Penghuni kota ikut menjerit-jerit. Lampion merah bergoyang, kain-kain berkibaran. Aku seperti melihat darah berpesta di kota ini. Putus asa aku melangkah ke tengah taman. Menceburkan diri ke dalam kolam air mancur. Tak kutemukan rumahnya. Padahal aku hendak mandi dirumahnya. Membasuh seluruh tubuh. Sebelum menemuinya untuk pertama kali, barangkali juga untuk terakhir kali.
Tuhan, aku kehilangan jejakmu di kota ini. Aku menceburkan diriku pada kolam air mancur dengan rasa kehilangan teramat sangat. Detik-detik di mana aku akan menjelma seorang pengingkar janji. Aku tak akan dapat menemuinya sekarang ataupun nanti setelah kematian. Ingin kuhancurkan diriku dalam air kolam. kutenggelamkan diriku. Aku bersujud di dasar kolam. Tuhan. Keningku dapat menyentuh dasar kolam. Keningku. Keningku. Pisau itu tertanam dengan sempurna dan tak berbekas di keningku. Dan sungai darah itu tak lagi ngalir di wajahku, bibirku usai mereguk amis luka. Aku terus menenggelamkan diri. Aku bisa bernapas dalam air.
Malam memerah. Jam bernyanyi. Orang-orang menari. Aku berdiri di pucuk air mancur. Menepati janji. Janji pada seseorang. Aku berdiri di pucuk air mancur menatap kota yang memerah. Menatap orang-orang yang mabuk dalam tarian. Aku melihat mereka semua, tapi mereka tak lagi dapat melihatku. Aku lenyap bagi mereka. Seperti dalam ramalan. Aku tersenyum sendiri. Asing sendiri. Sepasang mata yang lembut menatapku dari sebuah jendela. Perempuan itu. Sepasang mata yang lain. Liar dan galau, mengintipku dari mulut sebuah gang. Perampok sialan itu. Kini aku ingin berpikir tentang malaikat dan iblis. Tapi aku tak lagi dapat berpikir. Pisau itu mungkin telah menggasak seluruh isi kepala. Aku hanya dapat merasa. Merasa. Bahwa dua pasang mata itu masih dapat melihatku. Merasa. Bahwa aku diliputi kerinduan.

















